Benarkah Menata Sandal Kyai Mendapat Berkah? Ini Penjelasannya!

Benarkah menata sandal kiai mendapatkan berkah? Pertanyaan ini sering muncul dan dipertanyaakan oleh orang-orang yang awam dengan dunia pesantren.

Dalam dunia pesantren menata sandal kiai adalah suatu tradisi yang sudah turun temurun dan sudah menjadi aktivitas yang sangat berharga.

Bagi santri, aktivitas menata sandal kiai adalah bentuk keta’dziman atau bentuk memuliakan guru yang telah mengajarkan kebaikan dan para santri sangat meyakini bahwa perbuatan tersebut memiliki nilai keberkahan yang sangat tinggi, para santri menyebutnya dengan ngalap berkah.

Selain menata sandal kiai, Terdapat beberapa aktivitas santri yang dinilai sebagai bentuk potret ngalap berkah, yakni mencium sajadah yang telah dilewati kiai, meminum bekas minuman kiai dan memuliakan keturunan kiai. Aktivitas-aktivitas seperti ini dalam dunia pesantren sudah menjadi sebuah bagian yang tidak bisa dipisahkan.

Namun, tidak jarang orang-orang yang awam dengan dunia pesantren memandang kegiatan semacam ini adalah kegiatan yang aneh,. Karena yang hanya dapat memberikan keberkahan adalah Allah Swt, maka para santri harus meminta langsung kepada Allah bukan malah melakuhkan aktivitas yang nyeleneh tersebut.

6 Kebiasaa6 Kebiasaan yang Merubah Hidup Lebih Produktif, Simakn yang Merubah Hidup Lebih Produktif, Simak

Anggapan tersebut sekilas memang terlihat benar, namun perlu diperhatikan bahwa para santri melakuhkan hal ini karena merasa bahwa didalam dirinya terdapat banyak sekali dosa.

Oleh karena itu para santri membutuhkan sebuah wasilah (lantaran) agar sang kyai rela memintakan keberkahan kepada Allah untuknya. Lantas benarkah menata sandal kiai mendapatkan berkah? Dan apakah para ulama terdahulu pernah melakuhkan hal yang serupa?

Dalam kitab Ta’limul Muta’alim karya Syekh Azarnuzi dijelaskan bahwa terdapat seorang tokoh ulama besar asal Hadramaut, yakni Imam Ali bin Hasan Al-Attas, beliau berkata,

“Sesungguhnya yang diperoleh dari ilmu, cahaya dan pemahaman adalah terbukanya hijab sedang faktor benyebab terbukanya hijab adalah seberapa besar ia beradab terhadap gurunya.”

Beliau menjelaskan bahwa pada zaman dahulu sekalipun ia anak seorang raja, mereka dididik untuk terus menghormati dan melayani gurunya, sebagai contoh adalah dua anak Raja Harrun Ar-Rasyid, yakni Al-Amin dan Al-Ma’mun.

Mereka selalu berlomba-lomba untuk memakaikan sandal gurunya, yakni Imam Al-Kisa’i. Berkatalah beliau,

“Sosok guru memang harus dimuliakan, dilayani, dan dihormati. Karena mereka adalah salah satu dari orangtua kita yang jumlahnya ada tiga, yakni orangtua yang melahirkanmu, orangtua yang engkau nikahi anaknya, dan orangtua yang mengajarimu dan dialah yang paling utama.”

Kemudian, terdapat salah satu ulama besar, yakni Imam Taqiyyuddin As-Subkhi yang juga melakuhkan hal yang serupa, yakni ngalap berkah. Dikisahkan bahwa ketika beliau berkeinginan ingin menziarahi gurunya, yakni Imam An-Nawawi, namun setelah beliau sampai tujuan ternyata Imam An-Nawawi telah wafat.

Kemudian beliau menuju Madrasah Daar Al-Hadits al-Asyarafiyyah di Damaskus, yakni tempat Imam An-Nawawi mengajar dulu, beliau menanyakan tempat yang biasa digunakan oleh Imam An-Nawawi mengajar.

Lalu salah seorang menunjukan tempatnya, kemudian Imam As-Subkhi menempelkan wajahnya dan janggutnya pada tempat duduk Imam An-Nawawi seraya menandungkan sebuah sya’ir bahar waafir,

وَفِيْ دَارِ الْحَدِيْثِ لَطِيْفٌ مَعْنَى ۝ أَصْلِيٌّ فِيْ جَوَانِبِهَا وَاوي

لَعَلِّي أَنْ اَمْسِ بَحْرَ وَجْهِي ۝مَكَانًا مَسُّهُ قَدمُ النَّوَاوِيِّ

Artinya:

”Pada Darul Hadits ini terdapat kesan yang tersimpan, sehingga aku melaksanakan sholat dan mencari perlindungan di sampingnya. Tidak lain tidak bukan dengan seluruh wajahku ini dapat menyentuh pada tempat yang pernah di sentuh oleh kakinya Imam Nawawi”

Jika kita melihat dari keterangan di atas maka kita akan mengerti bahwa beliau Imam As-Subkhi melakuhkan hal itu tidak lain karena ingin tabarukan (ngalap berkah) kepada gurunya.

Seandainya perbuatan tersebut tidak menyimpan keberkahan, maka sudah pasti Imam As-Subkhi tidak akan rela menempelkan wajah dan janggutnya ketempat yang pernah di sentuh oleh kakinya Imam An-Nawawi.

Dengan mengamati apa yang sudah dilakuhkan oleh Imam As-Subkhi terhadap gurunya, yakni Imam An-Nawawi diatas, maka sudah sangat tepat jika para santri melakuhkan ativitas menata sandal kiai sebagai bentuk potret ngalap berkah seorang guru.

Para santri yang menginginkan kesuksesan dalam menuntut ilmu, dan menginginkan keberkahan serta kemanfaatan dalam ilmunya, maka langkah yang harus dilakuhkan oleh para santri adalah mengagungkan dan menghormati gurunya, salah satunya yakni menata sandal kiai.

Syekh Azzarnuzi berkata dalam kitab Ta’limnya,

اِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لَايَنَالُ الْعِلْمَ وَ لَايَنْتَفِعُ بِهِ اِلَّا بِتَعْظَيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ وَتَعْظِيْمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِرِهِ

Artinya:”Ketahuilah sesunggunya seorang pencari ilmu tidak akan memperolah kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya akan bermanfaat, kecuali jika mereka mau mengagungkan ilmu, ahli ilmu, dan menghormati keagungan gurunya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *