Ketika Data Menjadi Tuhan: Renungan tentang Agama Baru di Zaman Digital

Kita hidup di era yang aneh, di mana segala hal diukur, dicatat, dan dikalkulasi. Setiap langkah kita, setiap emosi, bahkan setiap detik kesepian kini punya nilai tukar: data. Tanpa sadar, kita telah berpindah dari zaman di mana manusia menyembah Tuhan, menuju zaman di mana manusia menyembah informasi. Yuval Noah Harari menamainya agama data (Dataism). Dan mungkin, inilah agama paling jujur yang pernah diciptakan manusia, karena kita menyembah apa yang benar-benar kita percayai: efisiensi, prediksi, dan kontrol.

Dulu, iman berpusat pada makna. Sekarang, iman berpusat pada akurasi. Dulu kita mencari kebenaran lewat doa dan perenungan; kini kita mencarinya lewat grafik dan algoritma.
Layar menjadi altar. Notifikasi menjadi panggilan ibadah. Dan setiap klik adalah doa yang tak lagi ditujukan kepada Tuhan, melainkan kepada sistem yang kita bantu hidup dengan setiap tetes perhatian.

Sebagai sebuah renungan, di zaman ini bukan tidak mungkin tapi sudah pasti, ketika kita hendak mengambil keputusan, maka kemana kita akan lari,Orang bijak? Oh tentu tidak! Kita pasti akan lari dan mempertanyakan keingian kita pada search bar! Layaknya menunggu bisikan ilahi. Dari situ apakah kita akan mempertanyakan “mengapa kita harus mengikuti”? saya rasa tidak.

Kita pernah percaya bahwa manusia memiliki jiwa, yakni sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh angka. Tapi kini, algoritma mulai meyakinkan kita bahwa bahkan cinta pun hanyalah pola yang bisa dianalisis. Bahwa kebahagiaan adalah hasil dari rekomendasi yang tepat. Bahwa makna hidup bisa dipersonalisasi berdasarkan riwayat pencarian.

Percaya atau tidak kini kita mampu menilai hidup hanya dengan sebuah angka, seperti jumlah langkah harian, detak jantung, jam tidur, jumlah pengikut, dan insight engagement. Tidak percaya? Biarkan aku mengujinya, ketika semua angka-angka itu berbicara apakah kita akan bertanya “apa yang membuatku bahagia? ” Jika kita tidak bisa menjawab, namun dalam hati kita merasa bahagia dengan “apa yang paling banyak dilihat orang”, maka disitulah kita secara tidak sadar telah beriman pada tuhan yang baru.

Bolehkah Memberi Zakat Fitrah Kepada Bani Hasyim dan Muthalib, Simak

Inilah wajah baru peradaban: manusia bukan lagi pusat dari segalanya. Data adalah pusat semesta baru. Setiap keputusan besar dari ekonomi global hingga kebijakan politik, dari diagnosis penyakit hingga algoritma media social semuanya ditentukan oleh aliran data yang tak berhenti. Kita pikir kita sedang memegang kendali, padahal sebenarnya kita telah menyerahkan kemudi kepada mesin yang belajar dari kebiasaan kita. Coba kita ambil contoh sebuah aplikasi navigasi berbasis GPS yang bernama Waze yang saat ini sudah mulai digunakan oleh banyak pengemudi.

Waze bukan sekedar peta navigasi biasa. Jutaan manusia mendapatkan segudang informasi terbaru tentang kemacetan lalulintas, kecelakaan, dan lain sebagainya. Maka, Waze sangat tahu persis kemana sebaiknya mengalih anda dari kemacetan lalu lintas ke lintasan yang lebih cepat dan aman. Ketika kita sampai pada jalan yang membingungkan dan naluri anda berbicara untuk belok kiri, namun Waze menyarankan anda untuk belok kanan. Maka dalam kasus ini anda akan mengikuti Waze ketimbang perasaan anda sendiri.

Terdapat hal lain yang lebih menakutkan lagi dibanding hal itu. Di balik kenyamanan yang kita terima. Kita hidup di dunia yang seolah serba tahu, namun kehilangan rasa kagum. Dunia yang sangat efisien, namun rasa empati hilang. Keseharian kita saat ini adalah menatap layar dengan harapan akan mendapatkan jawaban dari sana, namun pada realitanya kita hanyalah menemukan cerminan diri yang dipoles untuk menjual lebih banyak hal.

Agama data memuja keterbukaan total, semakin banyak berbagi, semakin “bermakna” eksistensi kita. Dulu, kita menganggap data diri kita adalah mutlak milik kita dan menjadi hak privasi masing-masing dan menjaganya layaknya menjaga kehormatan, namun kini kita menyerahkannya secara sukarela: membagikan lokasi, riwayat hidup, wajah, bahkan emosi. Semua itu demi satu kalimat, yakni “pengalaman yang lebih baik”.

Kita secara tidak sadar memberikan izin tanpa berpikir panjang. Yaps.. Allow access, accept cookies, share my data, layaknya ucapan amin dalam doa digital.  Tapi, apakah manusia bisa tetap menjadi manusia jika tak ada lagi rahasia? Apakah sebenarnya kita masih memiliki kebebasan jika setiap pilihan telah diprediksi? Ketika semua bisa diukur, lantas apa yang kemudian tersisa dari keajaiban hidup?.

Di titik ini, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah manusia diciptakan untuk melayani data, atau data seharusnya melayani manusia?
Apakah kita sedang berkembang, atau justru menyerahkan kemanusiaan kita demi kenyamanan digital?

Harari memperingatkan bahwa dataism bisa menggantikan iman lama bukan karena ia lebih benar, tapi karena ia lebih efisien. Ia tak menjanjikan surga, tapi menawarkan keabadian dalam bentuk lain: keberlanjutan algoritma. Ia tak menjanjikan keselamatan jiwa, tapi imortalitas data.
Dan ironinya, kita menerimanya dengan sukacita.

Akantetapi, ada satu hal yang tidak bisa dimiliki oleh data, yakni hati. Tidak peduli seberapa canggih system yang kita bangun, sudah dapat dipastikan tidak akan ada sebuah algoritma yang biasa meniru perasaan ketika kita memaafkan seseorang, ketika kita merasa bahagia dari sesuap nasi yang kita dapatkan dari jerih payah, atau saat kita menangis tanpa alasan yang jelas.

Tidak ada machine learning yang mampu memahami kehilangan, kesepian, atau cinta tanpa syarat. Karena, yang membuat kita dinamakan manusia bukan hanya sekedar kemampuan memproses informasi, melainkan kemampuan untuk memberi makna dalam hidup. Mungkin, di tengah lautan data yang terus meluap ini, yang paling revolusioner bukanlah teknologi baru, tapi keberanian untuk tetap menjadi manusia, untuk kembali merayakan misteri, menerima ketidaksempurnaan, dan memeluk ketidakpastian yang dulu kita sebut sebagai iman.
Sebab pada akhirnya, mungkin yang kita butuhkan bukanlah Tuhan yang bisa menjawab semua pertanyaan, tapi Tuhan yang mengajarkan kita untuk bertanya dengan hati.

One thought on “Ketika Data Menjadi Tuhan: Renungan tentang Agama Baru di Zaman Digital

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *