Belajar dari Kisah Inspiratif Urwah bin Zubair

kegagalan sudah menjadi hal lumrah di dalam kehidupan yang realistis ini, setiap manusia pasti pernah melaluinya.

Kegagalan adalah awal dari sebuah kesuksesan, namun ketika mengalaminya, sering kali membuat diri menyalahkan takdir yang telah ditentukan sang pencipta.

Kegagalan merupakan hal wajar, bahkan dari semasa kecil, sudah begitu banyak rintangan yang gagal dan mungkin telah terlupakan.

Contohnya anak kecil yang ingin belajar berjalan, dari mulai takut untuk berdiri, mulai mengambil langkah, lalu terjatuh, menangis dulu, setelah itu bangkit untuk berdiri dan mencoba lagi, begitu seterusnya.

Seiring dengan waktu, berkat usaha anak tersebut, pijakan kaki mulai stabil, jalannya mulai lancar, bahkan bisa berlari kesana kemari.

Setelah ahli berlari, semestinya ingin belajar bersepeda, namun lagi dan lagi harus menghadapi kegagalan, yaitu terjatuh, tergelincir, dan lain sebagainya.

Hal tersebut mengingatkan bahwa kegagalan akan selalu hadir, untuk membuat diri lebih berhati-hati dalam mengambil langkah selanjutnya, agar mencapai kesuksesan yang diimpikan.

Sebagai manusia biasa, perlu belajar dari kisah hidup  para tokoh sukses, yang sudah mengalami kegagalan sebelumnya, karena dapat memotivasi diri agar tidak mudah putus asa. Berikut kisah inspiratif Urwah bin Zubair, yang perlu dipelajari:

Abu Abdullah Urwah bin Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Al-Quraisy Al-Asadi (Urwah bin Zubair), merupakan salah satu dari tujuh fuqaha Madinah.

Tujuh fuqaha Madinah yaitu, Said bin Al-Musayyib, Al-Qasim bin Muhammad, Sulaiman bin Yasar, Kharijah bin Zaid bin Tsabit, Ubaydillah bin Abdullah bin Utbah, Abu Bakar bin Abdurrahman, dan Urwah bin Zubair.

Ketika Data Menjadi Tuhan: Renungan tentang Agama Baru di Zaman Digital

Tujuh fuqaha Madinah tersebut, merupakan tokoh utama ilmu fiqih di Madinah, setelah generasi sahabat Nabi Muhammad wafat.

Alkisah sewaktu itu, Urwah bin Zubair bersama anaknya Muhammad bin Urwah pergi ke Damaskus untuk bertemu Khalifah Al-Walid.

Saat di perjalanan dengan menggunakan perahu, angin datang begitu kencang, oleh karena itu anak Urwah bin Zubair memasuki kandang kuda untuk melindungi diri, sekaligus ingin melihat kuda-kuda piaraan pilihan.

Tak disangka tiba-tiba seekor kuda menyepak anak Urwah dengan sangat keras, sehingga membuatnya meninggal dunia.

Setelah anaknya meninggal dan dikuburkan. Urwah lagi-lagi harus menghadapi ujian, yaitu salah satu telapak kakinya terluka, betisnya tiba-tiba membengkak, kemudian penyakit menjalar dengan cepat.

Sumber lain mengatakan bahwa penyakit tersebut adalah kanker kulit, dan ada juga yang mengatakan penyakit kudis, wallahu a’lam.

saat itu Urwah bin Zubair masih berada di Damaskus. Khalifah Al-Walid sangat perihatin dan menawarkan kepada Urwah agar kakinya dipotong (amputasi) saja agar tidak semakin parah, Urwah kemudian  menyetujuinya.

Khalifah Al-Walid mendatangkan ahli jagal untuk memotong kaki Urwah bin Zubair. Ketika akan di amputasi, ahli jagal tersebut menyuruh Urwah untuk meminum khamar (minuman keras) agar tidak merasakan sakit.

Urwah bin Zubair menolaknya, karena tidak mau menjalani larangan Allah subhanahu wa ta’ala, bersamaan dengan mengharap kesembuhan dari-Nya.

Pemotongan kaki Urwah bin Zubair dilaksanakan ketika beliau sholat, sesuai dengan keinginannya.

Sungguh Urwah bin Zubair sangat sabar dan ikhlas, dalam menghadapi setiap ujian yang dijalani, tak jarang Urwah bin Zubair malah berucap syukur kepada Allah SWT.

Kisah Urwah bin Zubair begitu menginspirasi, agar hidup selalu tenang dalam menghadapi segala ujian. Empat sifat yang harus diteladani dari kisah Urwah bin Zubair:

1. Sabar

Memiliki sifat sabar akan melahirkan kekuatan, karena mampu menerima keadaan dengan lapang dada.

2. Ikhlas

Memiliki sifat ikhlas dapat menjadikan diri, mudah menerima ketetapan yang telah Allah berikan.

3. Optimis

Optimis yaitu suatu harapan yang ada pada individu, bahwa segala sesuatu yang berjalan, akan menuju ke arah kebenaran.

Memiliki sifat optimis dapat membuat diri semakin percaya, kepada skenario kehidupan yang telah direncanakan Allah SWT.

4. Berserah diri kepada Allah (tawakal)

Memiliki sifat tawakal cenderung akan menyerahkan semua urusan kepada Allah. Sifat tawakal akan membuat diri bersyukur ketika diberi kenikmatan serta akan bersabar apabila diberi ujian.

Menghadapi kegagalan merupakan hal yang sangat berat, namun apabila meneladani sifat-sifat Urwah bin Zubair tersebut, maka akan membuat diri semakin tenang dalam menjalani setiap rintangan.

One thought on “Belajar dari Kisah Inspiratif Urwah bin Zubair

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *