Mendekap Rindu Dikala Senja

Senja selalu datang dengan warna jingga yang indah, juga selalu membawa kenyamanan, ketenangan, juga kenangan yang dalam, atau dia juga dapat membawa luka.

Kala itu, di rumah kecilku. Saat senja tiba, kehangatan pun akan datang dengan tawa yang lantang terdengar di dalam rumah yang kecil. Aroma masakan ibuku menambah kehangatan suasana. Tumis kangkung dan sambal terasi yang dihidangkan lebih lezat rasanya dibandingkan dengan restoran berbintang di kota.

Aku adalah Khalim, seorang anak perempuan yang ceria dan selalu bersembunyi ketika menangis. Aku sangat senang kala senja datang dengan warna jingga yang indah. Aku selalu menunggunya di teras rumah sembari menunggu ibuku menyelesaikan masakannya. Aku akan masuk ke dalam rumah ketika aku mendengar suara 

“ nak masuk ayo kita makan”. Suara ibuku ketika memanggil.

kalimat yang selalu aku tunggu, dan berharap kalimat itu terus keluar dari mulutnya sampai aku tua.

Di meja makan yang kecil itu, kita selalu berbincang-bincang. Aku dan ketiga kakakku Ari, Nandar, dan Zulka selalu menceritakan bagaimana hari yang kita lalui di setiap harinya. Ibu kami selalu mendengarkan semua cerita kami dengan senyuman tipis andalannya. Ibuku  adalah wanita yang sangat sabar. kala itu kami sedang asyik berbincang di meja makan dan memakan masakan ibuku.

Terdengar suara pyarr… ( suara piring pecah ) 

Ayahku melempar piring makanya kelantai dengan marah di depan mata kita semua sembari berkata: 

“masakan tidak enak apa yang kamu buat?Rasanya asin dan tidak karuan!”  aku melihat tangan ibuku yang bergetar ketakutan terletak di atas meja  phwaa…( suara orang meludahkan makanya ) 

Ayahku meludahkan makanan yang ada di dalam mulutnya ke badan ibuku yang sudah bergetar ketakutan karena teriakannya.  Semua cacian, makian, ia lontarkan untuk ibuku. 

Soeharto, Pahlawan yang Mesilakan Luka: Antara Jasa, Kuasa, dan Ingatan Kolektif

Walau sebenarnya ini bukanlah hal baru yang terjadi di rumah kecil kami. Ayahku yang selalu menganggap ibuku bagai seekor anjing, terus memakinya. Ia tak pernah  sungkan menyebut ibuku sebagai anjing di depan anak-anaknya. 

Aku pun sering terkena ludahan dari mulutnya yang kotor karena berusaha melindungi tubuh ibuku. Walau hal itu sering terjadi dirumah kecil kami, aku tetap menangis di pojok kamar yang gelap, lalu ibuku datang memelukku dan berkata: 

“ayahmu hanya ingin dicintai oleh anaknya, jadi jangan pernah benci atau dendam kepadanya ayahmu ya nak.”  (sembari mengusap air mataku). 

Sejenak aku berpikir, mengapa Tuhan tidak adil kepada ibuku?  ia adalah perempuan yang sangat baik, bagaikan bidadari yang dikirim dari surga ke bumi, yang kebaikannya tak aku temui di wanita-wanita lain, ia pun sangat dikagumi oleh banyak perempuan, karena banyak hal yang terutama karena kesabarannya. 

Ibuku selalu bangun di jam 03.00 pagi, untuk salat dan mendoakan agar ayahku mau berubah, tapi sepertinya Tuhan tidak berpihak pada ibuku. Hari-harinya dilalui dengan cerita yang sama dengan tangisan dan ketakutan di setiap harinya.

Sampai tiba saatnya ibuku jatuh sakit, dan kami semua merawatnya dengan cinta dan kasih, kecuali ayahku. Ia memaksa ibuku minum obat-obatan dengan dosis yang tinggi terus-menerus. Sampai tiba saatnya kesabaran ibuku pun ada batasannya, ia bukan lagi budaknya yang menuruti semua kemauannya, ibuku teriak dengan lantangnya:

“AKU SUDAH SEKARAT KAU MAU MEMBUNUH KU!” 

ucapnya tegas, hal yang tak pernah aku lihat dan dengar sepanjang hidupku, dan hal inilah yang kami tunggu yaitu kemarahannya. Pada akhirnya, ibuku terbaring di rumah sakit. Kakakku Zulka, Ari, dan ayahku menunggunya di sana, hanya ada aku yang di rumah dengan harap-harap cemas.

Aku berharap ibuku pulang ke rumah dengan sehat dan aku dapat melihat senyum tipis andalan ibuku kembali. Saat di rumah sakit ibuku selalu memanggil namaku karena aku adalah anak terakhir di keluarga kami, itu yang membuat ibuku selalu merasa aku adalah bayinya. Ia selalu bilang bahwa aku adalah Putri kecilnya. Ia juga bilang bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan aku. 

Namun lagi-lagi, Tuhan tidak berpihak kepada kami, takdir tidak dapat ku ubah, ibuku  pergi untuk selama-lamanya, tepat saat senja menampakkan warnanya yang indah, tangisan kami semua pecah; membuat senja kini tak indah. lalu kemudian aku berbisik lirih ditelinga jasad ibuku:

“bu.. aku takut, kenapa kau tinggalkan aku. aku takut dengan ayah bu”  (sembari mengusap air matanya).  

Masalah ekonomi memperparah keadaan rumah kecil kami. Kami sudah kehilangan tiang penyangga rumah kami, sehingga rumah kami tak kokoh lagi, rumah ini kini hampir roboh.

Sampai pada akhirnya semua kakakku pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, aku yang saat itu baru lulus SMP harus melanjutkan sekolahku. Aku tinggal berdua bersama ayahku, manusia yang sangat aku takuti. Dan benar saja, hal yang aku takuti terjadi, dia benar- benar menganggapku sebagai budaknya, yang harus mengikuti semua kemauannya.

Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah, sebelum sekolah dan sepulang sekolah. Ia selalu memarahiku bila ada barang yang tak bersih, ia menganggap aku sebagai pembantu  rumahnya tanpa bayaran, hanya makan yang aku dapatkan setiap harinya. Ia pun bilang, bila nanti aku harus membayar semua untuk biaya makanku selama aku hidup dirumah itu. Yang menyebabkan ketakutanku semakin parah. Dan di setiap harinya aku pergi ke makam ibuku, sembari berkata :

“Bu..  aku takut, kenapa kau tinggalkan aku sendiri?.  Ayah selalu memakiku selalu teriak kepadaku. aku takut. Bu, tolong minta Tuhan untuk menyuruh malaikatnya juga mengambilku”. Kalimat yang sering aku ucapkan setelah kepergian ibuku.  

Sayangnya, sifat sabar ibuku menurun kepadaku, aku tak pernah bisa marah kepada ayahku saat ia mulai menganggapku sebagai budaknya, memakiku, dan teriak-teriak kepadaku. Aku hanya bisa diam dan menangis sampai tiba saatnya psikologi ku hancur, mentalku rusak, aku gila! aku selalu ketakutan di mana pun tempatnya, selalu merasa ada yang melihat dan mengawasi.

Diriku selalu ketakutan sampai teriak-teriak. Semua orang melihatku sudah gila. Ya benar, aku tak sekuat kuat ibuku, aku benar-benar gila.

Sampai kabar ini terdengar kakakku; Zulka yang langsung pulang ke rumah kecil kami yang sudah benar-benar hampir roboh, dia datang dengan membawa satu tiang untuk menyelamatkan rumah kecil kami, iya datang dan bertanya :

“kenapa?” … satu kata yang membuat warasku kembali.

Ia yang kini merawat ku, kini ia pun sudah benar-benar tidak percaya dengan ayahku lagi ia bicara dimakan ibuku : 

“maaf Bu mustahil rasanya tidak membenci manusia itu (ayah)”

Ayahku yang setiap harinya bermain dengan banyak perempuan, dan selalu membicarakan tentang tubuh perempuan bersama teman-temanya. Padahal iya juga adalah ayah dari anak perempuan, hal yang tak pantas rasanya diucapkan seorang ayah. Tapi sejenak aku ingat kembali, bahwa mulutnya telah lama kotor.

Namun kembalinya Zulka, benar-benar menolong kembali untuk membangun rumah kecil kami, bagaikan hujan yang turun di saat musim panas. Ia benar-benar mengembalikan ke warasanku. Sifatnya yang tegas, keras, dan pemberani mampu membuat ayahku takut dan perlahan mulai menenang.

Ia bukan lagi ayah yang arogan dan kasar, sesekali sifatnya tidak hilang namun kakakku Zulka kembali meredam amarahnya dengan ketegasannya.  Perlahan, doa ibuku mulai didengar oleh Tuhan, walau ia tak merasakannya.  kini aku bisa lagi duduk di teras rumah dan melihat senja yang jingga dengan lebih tenang dibandingkan dahulu, dan senja kini lebih banyak memberi kehangatan. Rasanya senja sedang memelukku bersama dengan kerindu yang semakin menusuk.

Namun kini, kurasa ibuku jauh lebih bahagia, dan mungkin saja bila ibuku masih tetap hidup, ayahku tidak akan berubah. Sembari melihat jingga yang indah di telingaku terbisik lirih terdengar suara :

“ini alasan ibu tidak meminta Tuhan mengambil mu nak”. 

5 thoughts on “Mendekap Rindu Dikala Senja

    1. betul kak. terimakasih banyak ya kak karena sudah membaca dan meninggalkan komentar. kami pun ikut tersentuh mendengar tulisan ini bisa memberi dampak emosional untuk kamu. semoga karya-karya berikutnya juga bisa menyentuh dan menemani hari-harimu. jangan ragu untuk membaca atau berbagi pandangan di artikel lainnya ya kak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *