Ia dan Luka

Suroyaproject.com-Pagi itu seperti biasanya Matahari yang menghangatkan seluruh tubuh muncul seorang diri, dari arah Timur dengan keindahan warna yang luar biasa. Terkadang aku berpikir bagaimana bisa Matahari menghangatkan Bumi seorang diri, mengapa ia begitu berani? padahal tak jarang aku mendengar cacian dari makhluk Bumi yang berakal- katanya.

“ bisa nggak sih Matahari enggak usah muncul dulu biar udaranya sejuk nggak panas”

begitu ujarnya, namun biarkan saja itu terjadi lagi pula aku tak pernah peduli dengan apa yang ada di sekelilingku.

Perkenalkan aku Zee seorang anak terakhir dari 5 bersaudara dan juga anak perempuan satu-satunya di keluarga kami, aku lahir bukan di tengah kehangatan, tetapi di tengah kehancuran. Sering ku berpikir kelahiranku membawa sial bagi keluarga yang mungkin harmonis sebelum adanya aku.

Masa kecilku dihabiskan dengan melihat drama perkelahian setiap hari, suara tangisan dan tak jarang aku dibawa kabur oleh ibuku dan bermain petak umpet dengan ayahku berpindah-pindah tempat agar tak ketahuan, jangan tanya seberapa lelah diri dan tubuhku yang masih kecil dan masih sangat rentan ini, harus selalu berpindah-pindah tempat tinggal bahkan berpindah kota.

Saat anak lain pergi bersekolah di pagi hari, aku harus pergi ke kota lain mengikuti ibuku dan akulah satu-satunya anak yang dibawa pergi ibuku, sering kali aku merengek kepada ibuku bahwa aku ingin pulang dan bertemu ayahku namun ia tak pernah menggubris perkataanku, bagaikan boneka yang disimpan di dalam koper, aku selalu mengikuti ibuku tanpa berbicara karena aku tahu iya tak akan mendengarkan aku mungkin ada yang lebih berisik di kepalanya dibandingkan suara tangisan kecilku.

Sampai tiba saatnya waktu yang aku tunggu dan waktu yang tak dinantikan ibuku tiba, ayahku menjemputku pulang dan menjanjikan kepada ibuku bahwa ia akan menghidupi semua anaknya juga merawatnya dan memenuhi semua kebutuhan anaknya, ibuku yang tak berdaya yang tak punya pekerjaan dan penghasilan terpaksa melepaskan anaknya dan membiarkan semua anaknya diurus oleh ayahnya.

Sejak saat itu, aku sangat jarang bertemu ibuku karena kami tinggal di kota yang berbeda aku dan ayahku tinggal di kota Lampung sedangkan ibuku, jauh di Jakarta. Namun ayahku menepati semua janjinya ia menjamin semua kebutuhanku biaya hidupku, namun tak dengan kehangatannya.

Sepotong Tawa di Ujung Nyawa

Aku hidup dalam kesunyian rumah dan keheningan malam aku tak pernah berbicara dengannya sampai aku lupa cara berucap yang baik. Sedari kecil sampai kini usiaku 19 tahun aku tak bisa berbicara dengan baik, pembawaanku yang dingin dan tak peduli dengan lingkungan sudah melekat dalam diriku.

Saat semua anak bermain dan bercerita tentang hari mereka kepada keluarganya, saat itulah aku ditemani sepi yang begitu setia hingga enggan meninggalkanku. Terkadang sepi juga datang membawa temannya-rindu yang menusuk hati yang tenang dan beku. Rindu akan semua dongeng ibuku dan nyanyian pengantar tidur untukku. Aku begitu kecil untuk memahami segalanya, aku tak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar di antara mereka atau bahkan tak ada yang benar di antara mereka, aku membenci semua tetapi tidak dengan dongeng dan nyanyian pengantar tidur ibuku yang begitu tenang dan hangat di telinga.

Hidupku berjalan tanpa tawa dan senyum yang ceria di wajah, entah mengapa ia juga meninggalkanku. Wajah datar tanpa senyum Dan kerutan di alis menjadi ciri khas sekaligus topeng untuk menutupi kesedihan yang aku anggap sebagai kelemahan.

Sampai saat suatu pagi yang cerah, ku dengar orang mengutuk pintu yang sudah lama tidak diketuk oleh siapa pun, aku membuka secara perlahan mendadak senyum tipis muncul di pipi ini tanpa aku sadari, bukan kekasih hati yang datang menghampiri melainkan pemilik dongeng dan nyanyian tidur yang ingin terus kudengar ada di depan mataku. Tak salah lagi itu ibuku, memeluknya terlalu aneh bagi diriku, aku biarkan dia memeluk tubuhku tanpa balasan dari diri ku dan kini ibuku sudah pulang ke Lampung dan tinggal di desa sebelah.

Terkadang aku tidur di rumah ibuku untuk mendengarkan dongeng yang tak ada habisnya yang membuat senyumku kembali perlahan. Ayahku pun memperbolehkan aku tidur di rumah ibuku. Pada saat itulah, ibuku menceritakan segalanya tentang perpisahannya dengan ayahku. Hal yang sangat ingin aku dengar, karena ayahku tak pernah mau menjawab pertanyaanku tentang hal itu.  

Hal yang selalu aku tanyakan, tetapi ibuku menceritakan segalanya tentang kekurangan  dan kesalahan ayahku, namun tak dengan ibuku. Iya bagaikan korban yang tak berdosa yang dimainkan oleh ayahku. Semakin hariku mendengar ceritanya, semakin ku membenci ayahku, dan yaa… semua kakak-kakak ku terlebih dahulu membenci ayahku karena cerita yang ia dengarkan dari ibuku bahkan semua kakakku enggan untuk mengunjungi rumah ayahku, kita semua sangat membencinya karena ibuku menceritakan segalanya.

Kita semua enggan untuk berbicara bahkan bertemu dengan lelaki tua yang sudah pensiun yang semua gajinya digunakan untuk menghidupi anaknya yang kini hanya tinggal berdua denganku, sering ku melihatnya duduk diam di sofa dengan tatapan kosong dan sebatang rokok di tangannya, namun mungkin ini semua karena kesalahannya jadi kubiarkan saja ia hidup sendiri. Salahnya tak mau mengakui segala kesalahannya. Salahnya karena tak mau menceritakan segalanya kepada anaknya. Ini semua adalah kesalahan lelaki tua itu yang kini duduk di sofa berjam-jam sembari membakar rokok terus-menerus dengan tatapan kosong dan wajah yang usang.

Semua kakakku benar-benar membenci ayahku, namun ayah tak pernah berucap apapun bahkan tak terdengar pembelaan dari mulutnya. Kita semua yakin bahwa itu benar-benar kesalahannya, ini bukan tentang perpisahan tetapi tentang kehancuran. Kehancuran kami semua, kehancuran anak-anaknya, kami tumbuh dengan keadaan yang tak utuh menyebabkan kami berbeda dengan anak lain-mental dan keberanian kita semua hancur, karena itu kami benar-benar menyalahkan semua perpisahan ini dan penyebab dari perpisahan ini, yang sayangnya ayahku diam seribu bahasa tentang hal ini.

Kini usiaku sudah beranjak dewasa, aku sudah mulai bosan dengan dongeng-dongeng karangannya, kini ku menyadari beberapa hal yang janggal dalam hidup kami yang tak disadari oleh semua kakak-kakakku sepertinya ibuku tak pernah trauma dengan pernikahannya. Sebaliknya, ia membuat trauma para lelaki untuk menikah. Ibuku sudah menikah beberapa kali setelah berpisah dengan ayahku dengan waktu yang tak lama ibuku berpisah dengan satu persatu suami-suaminya.

Sedangkan ayahku, menghabiskan seluruh hidupnya bahkan masa tuanya untuk membiayai semua anak-anaknya, merawatnya seorang diri tanpa bantuan siapa pun, ayahku begitu setia dengan kesendiriannya, seperti luka pernikahan yang tak pernah hilang. Ia tak pernah mau untuk bersama dengan siapa pun sampai saat ini dan kini tiba saatnya saat semua saudaraku berkumpul puncak dari segala pertanyaan kami lontarkan untuk ayah kami, namun saya yakin pertanyaan itu akan terbuang sia-sia karena ia tak pernah mau menjawab, namun ternyata aku salah besar terdengar suara lantang dan tegas menjawab layaknya seorang kepala rumah tangga.

“Aku telah lama menutup rapat-rapat luka ini, luka yang berbekas dan yang meninggalkan ruang kosong di dalam hati hingga saat ini. Aku begitu membenci manusia favorit kalian itu: ibumu. Kau tahu apa yang ia lakukan? iya bermain dengan banyak pria di luar sana saat aku sangat mencintainya, ia menuduhku menghancurkan segalanya yang menyebabkan namaku buruk di mata kalian, namaku buruk di mata semua orang”.  Tutur ayahku dengan nada yang berat, ia kemudian melanjutkan.

“Begitu keji ia membunuhku secara perlahan! aku hanya ingin kau tak membencinya sama seperti diriku, hampir matiku dibuatnya, aku tak ingin kau pun mati dibuatnya. Lagi pula aku hutang nyawa kepadanya dia yang telah melahirkan putra-putriku yang sangat elok ini yang kini semuanya membenciku, aku tahu kau semua terluka karena hal ini, prihal terutama perpisahan kami, tapi tahukah kalian aku lebih hancur mendekap luka? tahukah kalian bertahun-tahun aku hidup dengan luka bahkan sampai saat ini luka tak kunjung usai”.

“Aku melihat mataku sendiri ia bermain dengan banyak pria, ia pula yang menfitnahku sebagai lelaki yang arogan, yang memperlakukan istrinya seperti binatang, membuatku dibenci oleh seluruh masyarakat bahkan sampai saat ini luka dari perkataannya tak kunjung usai terdengar dan bergema di telinga, namun ku tak ingin kau membencinya, lukanya adalah lukaku cinta dalam hati tak kunjung usai ia berjalan selaras dengan luka hingga saat ini ibumu tak pernah puas dengan satu lelaki saja.” Ucap ayahku dengan yang berat disertai tetesan air mata.

Tanpa kami sadari, air mata kami pun telah membasahi pipi.  Kami tak menyangka ini yang ia tutupi selama inidan  ternyata ia jugalah yang selama ini mendekap lukanya seorang diri yang hanya ditemani oleh sebatang rokok yang menghilang menjadi asap. Bila aku hidup ditemani sepi, maka ia hidup ditemani luka.

Ayahku kini menyuruh kami untuk tak membenci ibu kami dan tetap mencintainya seperti dahulu, karena ia yang mengorbankan nyawanya untuk melahirkan kami namun ayah tak pernah menyuruh kami untuk menyayanginya juga mungkin ia terbiasa dengan kesendirian dan luka bukan kasih sayang.

Sejak saat itu, kebenaran-kebenaran mulai terungkap-ayahku tak benar-benar bersalah. ia hanya tak punya cara untuk mengungkapkan cinta kepada anaknya, ia hanya lelaki tua pensiunan PNS yang semua gajinya dihabiskan untuk semua kebutuhan anaknya. Ayahku begitu elok menyimpan luka di dalam hati sampai ia lupa bahwa hatinya berhak elok dengan cinta dari anak-anaknya. 

“Yahh… berhentilah medekap lukamu sendiri, kini aku sudah menjadi gadis dengan penuh cinta yang siap memberikannya untukmu”. Ucap lirih yang keluar dari dalam hati.

4 thoughts on “Ia dan Luka

    1. Terimakasih banyak kami ucapkan
      Kami senang cerpen yang ditulis oleh Khamilatul Khusna ini bisa menyentuh dan memberi kesan mendalam. semoga cerita-cerita lainnya juga bisa menghadirkan pengalaman membaca yang berarti untukmu. dan tak lupa minta doanya kak agar penulis kami (Khamilatul Khusna) selalu diberi kelancaran

  1. Cerpennya approve🫶, walau plot twist :v, ga nyangka aja ternyata ibunya yang memutar balikkan fakta🙄 tapi keren si bapaknya dia bener2 jadi hero buat anak2nya dan dia ga mau sampe anak2nya pada benci ibunya sendiri. Pokonya jangan langsung nge-judge karna denger 1 cerita dari sisi ibu, coba liat dari sisi bapaknya pasti bakal beda. Ratingnya 5/5🤭🫶, plot twist ga nyangka banget

    1. Terimakasih banyak atas apresiasinya
      Kami senang sekali kamu menikmati plot twist dan pesan moral yang ingin disampaikan kaka penulis yang berbakat ini, yakni kak Khamilatul Khusna. benar sekali, setiap cerita selalu punya lebih dari satu sisi dan lewat cerpen ini, kita diajak untuk melihat luka yang tersembunyi di balik diam seseorang.
      Semoga kamu terus mengikuti karya-karya selanjutnya dari penulis-penulis berbakat di Suroya Project. atau kaka juga boleh jika tertarik untuk mengirimkan tulisan dan pemikiran kaka, Suroya Project membuka pintu yang sangat lebar bagi penulis-penulis yang ingin menuangkan ide dan gagasannya baik melalui, puisi, cerpen, ataupun opini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *