Kay Seorang Pemimpin Yang Benar

Suroyaprocet.com-Kala itu, di sebuah desa pegunungan bernama SOIBA, di mana tempat masyarakat hidup serba kekurangan dan dalam penderitaan yang besar. Desa yang sebenarnya sangat elok dipandang namun tak dengan penguasanya.

Khosin, seorang raja yang besar nan agung yang menghancurkan semua mimpi anak-anak desa yang polos, juga menghancurkan semua mimpi warga desa tersebut dengan kekejamannya. Raja khosin terkenal sebagai pemimpin yang keras dan arogan, warga desa menyebutnya sebagai pemimpin yang tak punya hati bahkan setiap warga yang berusia 17 tahun wajib bekerja tanpa bayaran untuk kerajaan-tak peduli laki-laki ataupun perempuan.

Apapun yang dihasilkan oleh warga harus langsung diserahkan ke istana: baik sayur, beras, ternak hingga uang, alhasil tak ada yang tersisa yang dimiliki oleh warga desa tersebut, bila warga mengotot untuk menyisihkan penghasilannya dan tidak diberikan secara penuh untuk kerajaan, maka warga tersebut dan keluarganya akan mendapatkan hukuman yang sangat berat dari raja dan hal itulah yang terus terjadi di desa yang elok ini.

Di desa yang tampak elok ini, setiap warga memikul karung sambil menahan lapar di perut. Makanan yang diberikan oleh kerajaan, bahkan tak cukup untuk mengganjal perut para pekerja. Pingsan karena kelelahan, sudah menjadi hal biasa bagi para pekerja, tak jarang terdengar suara tangisan yang bersembunyi di balik gelapnya malam.  Hidup warga desa benar-benar dalam penderitaan. Tak ada lagi mimpi yang diinginkan warga desa selain kematian, karena tak sanggup menahan penderitaan.

Tahun demi tahun berganti, terdengar tangisan bayi di dalam istana-bayi laki-laki yang tampan telah lahir sebagai  putra dari raja Khosin dan istrinya Kaditra yang mereka beri nama Kay. Kelahiran Kay di muka bumi ini adalah untuk mengubah segalanya.

Hari demi hari berlalu, Kay si bayi tampan itu kini sudah tumbuh besar, berbeda dengan ayahnya yang kejam, kay tumbuh dengan hati yang sangat baik. Saat tiba waktunya untuk Kay berkeliling desa, Kay bahkan tak sungkan untuk memberikan senyuman yang menawan kepada warga desa yang membuat hati warga desa menjadi tenang, dia juga diajak oleh ayahnya untuk mengawasi rakyatnya bekerja dari balik pilar istana, Kay melihat seorang ibu dengan pakaian yang usang yang datang dengan tergesa-gesa, karena telat menyerahkan hasil panennya.

 “Maaf tuan saya hanya dapat sedikit, karena anak hamba sedang sakit tuan” ( kata ibu itu sembari gemetar)

Penjaga membentak keras

“itu bukan urusanku! perintah raja harus tetap dipatuhi”

 Kay kecil memalingkan wajahnya karena tak sanggup melihat hal itu

“ayah apa mereka harus dihukum?”  tanyanya pelan.

Raja Khosin menjawab dingin

“tanpa hukuman tidak ada yang akan patuh nak”.

Sejak saat itu kegelisahan tinggal di dalam hati kecil Kay.

Waktu berlalu dengan sangat cepat, kini usia Kay sudah 25 tahun, namun ayahnya pun raja Khosin sudah semakin tua dan kini jatuh sakit- tubuhnya lemah tak berdaya yang hanya bisa berbaring di atas ranjang, suaranya pun tak lagi terdengar tegas, kini suaranya bahkan hampir tak terdengar. Dengan nafas yang berat ia berkata:

“Kay… lanjutkan tugas ayah, pastikan rakyat tetap bekerja itu satu-satunya cara kerajaan kita berjalan”

Kay menunduk “baik ayah  ucapnya meski hatinya penuh keraguan. Namun begitu ia keluar ruangan. “Ia berbisik pada dirinya, aku harus melihat semuanya dengan mataku sendiri”

Beberapa hari kemudian, Kay turun ke desa tanpa pengawal. Semua warga terkejut melihat pewaris raja yang berjalan seorang diri, saat memasuki sebuah rumah kecil, ia melihat seorang ayah terbaring sakit, di sudut ruangan tampak seorang anak kecil yang sedang mengaduk bubur yang terlalu encer, dia mendekat dan memegang pundak bocah kecil itu.

Sekolah Penyumbang Pengangguran Terbesar: Membedah Janji Manis Sekolah

“Seperti ini keadaan kalian?”  tanyanya pelan anak itu menjawab dengan suara lirih

“kami sudah tak punya apa-apa lagi tuan”

 Kay terdiam, dadanya sesak, ia keluar perlahan mencoba mengatur nafasnya kembali.

“ini tidak bisa dibiarkan” gumamnya

Malam itu Kay berdiri di depan gudang kerajaan, terdapat dua penjaga yang sangat ia percaya menatapnya bingung dan penuh pertanyaan.

“tuan Kay apa yang ingin anda lakukan?”  tanya salah satu dari mereka. Kay menatap pintu gudang

“buka… bagikan semuanya”

penjaga menelan ludah

“tapi… ini milik kerajaan”

 Kay menggeleng pelan

“ kerajaan ini sudah terlalu banyak mengambil, sekarang kita bagikan ini”

Pintu gudang pun dibuka, perlahan para penjaga pun membantu Kay untuk membagikan beras, pakaian, dan kebutuhan lainnya kepada rakyat. Keesokan paginya, Kay berdiri di depan rakyatnya dan berkata:

“mulai hari ini siapa pun boleh mengambil apa yang kalian butuhkan dari gudang istana, tidak akan ada lagi hukuman atau ancaman kini aku adalah raja kalian”.

Rakyat saling berpandangan, ada yang menutup mulut menahan tangis, ada yang memeluk anaknya erat-erat, kebahagiaan dan tangis haru sudah tak dapat ditutupi lagi dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama SOIBA terasa benar-benar hidup dan ke elokannya kini dapat dirasakan serta perlahan mimpi anak-anak mulai terbangun menuju desa yang lebih baik lagi.

Kini kami memahami, bahwa kebaikan sekecil apapun akan selalu menang atas kekuasaan yang zalim, dan pemimpin yang benar bukan yang ditakuti rakyat, tetapi yang menguatkan dan menyejahterakan rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *