Mari kita bayangkan jika suatu hari seorang anak ditanya tentang apa itu udang, lalu mereka menjawab dengan lantang dan penuh keyakinan tentang Litopeneus vannamei, siklus hidupnya, penyakit White Spot Syndrome (WSS), dan cara penaggulangannya menurut buku pelajaran, tetapi ia belum pernah atau malah tidak pernah sama sekali mencium bau tambak, belum pernah menyentuh lumpur tambak, bahkan belum pernah melihat udang yang mati mengambang. Atau seorang anak yang ditanya mengenai apa itu energi kinetik, ia menjawab dengan lantang bahwa kinetik merupakan energi yang dimiliki benda karena geraknya yang dipengaruhi oleh massa dan kecepatannya, ia juga mampu menghitung dan memetakan rumusnya.
Lalu yang jadi pertanyaan apakah mereka benar-benar memahami udang dan memahami energi kinetik? Atau mereka hanya sekedar menghafal pengetahuan tentang hal tersebut? Pertanyaan semacam ini memang terdengar nyeleneh dan terdengar remeh, namun berangkat dari situlah kegelisahan tentang sekolah itu bermula. Sekolah-sekolah sejak dulu sering menjauhkan anak dari realitas kehidupan, mereka diseragamkan dalam ruangan, didudukan rapi, diformalkan, dan diharuskan menerima materi yang sudah disepakati sebagai sebuah kebenaran. Guru menjelaskan, murid mendengarkan, lalu diuji. Yang lulus dianggap memahami dan yang gagal dianggap kurang mampu.
Apakah mereka sedang belajar tentang dunia secara nyata? Tidak! Melainkan mereka sedang belajar tentang dunia dalam versi yang sudah disaring, disederhanakn, bahkan kadang dipelintir. Eggak percaya? Coba geh cari tahu tentang Herman Willem Deandels dalam buku sejarah di sekolah dan bandingkan dengan realitasnya!
Sekolah saat ini dibangun dengan asumsi bahwa pengetahuan adalah suatu yang bisa dipindahkan atau kalau dalam istilah yang sering kita dengar transfer of knowledge, dari buku ke papan tulis, dari papan tulis ke kepala murid. Seolah praktik pembelajaran semacam ini menjelaskan bahwa dunia bisa diringkas menjadi modul dan bahwa cara kerja dunia sepenuhnya dapat dijelaskan oleh teori. Padahal pada kenyataanya dunia itu tidak pernah bekerja sesederhana itu. Kita pakai ilustrasi udang ya.. pada kenyataannya udang itu tumbuh tidak selalu mengikuti grafik. Penyakit atau hama pun tidak selalu tumbuh sesuai teori, alam atau dunia tidak selalu takluk dengan hipotesis, apalagi manusia kecil bernama murid tidak selalu belajar dengan cara yang sama.
Ketika sekolah hanya sekedar mengajarkan teori tanpa memahami konteks, maka yang dipelajari bukanlah pemahaman, melainkan anak sedang diajari untuk tunduk dan patuh. Patuh pada siapa? Patuh pada kurikulum, patuh pada jawaban benar, dan patuh pada otoritas pengetahuan. Sampai di titik ini sekolah sudah kehilangan ruhnya sebagai institusi yang mengemban misi menuntun manusia agar mengembangkan kodrat alam dan untuk menjadi manusia seutuhnya, yakni manusia yang merdeka.
Saya tidak sedang menyalahkan siapapun, melainkan saya sedang mengajak anda berefleksi, bahwa ilmu pengetahuan itu penting, teori pun juga dibutuhkan, dan penelitian ilmiah adalah pencapaian yang membanggakan peradaban umat manusia. Namun yang menjadi persoalan adalah sekolah seolah-olah memperlakukan penelitian adalah hasil yang selalu steril dari kepentingan, netral dari relasi kuasa, dan bebas dari agenda ekonomi, karena realitasnya tidak semua kebenaran ilmiah adalah hasil yang keluar dari ruang hampa.
4 Tanaman yang Dianggap Remeh namun Kaya Akan Manfaat Kesehatan, Simak!
Kita coba ambil contoh dari salah satu penyakit udang. Dalam banyak literatur-literatur ilmiah penyakit udang missal WSS dan sejenisnya, solusi yang ditawarkan seringkali mengarah pada satu obat, satu metode, atau satu produk. Merek mungkin tidak disebutkan secara terang-terangkan, namun arahnya jelas. Riset, dalam banyak kasus sudah umum dijadikan sebagai alat legitimasi, yakni membungkus kepentingan ekonomi atas dasar objektivitas. Ketika sekolah mengajarkan murid-muridnya tentang hasil penelitian tanpa mengajak mereka untuk mempertanyakan konteksnya, maka sekolah sedang mengajarkan sesuatu yang berbahaya, yakni ilmu adalah sesuatu yang final, absolut, dan tidak boleh digugat.
Padahal sejarah ilmu pengetahuan justru bergerak karena sebuah keberanian untuk menggugat. Sekolah seharusnya mampu mengajak anak untuk mempertanyakan sesuatu dari sebuah pertanyaan, yakni melalui dialog dan penyelidikan yang mendalam, karena dengan ini akan merangsang pemikiran kritis, menentang asumsi, dan membimbing peserta didik untuk menemukan kebenaran atau kontradiksi dalam pemikiran mereka sendiri secara alami. Karena pada dasarnya anak-anak adalah penanya, mereka ingintahu tentang mengapa sebelum apa, mereka juga ingin melihat sebelum menyimpulkan, namun ironisnya sekolah sering mematikan naluri itu dengan kalimat-kalmiat magis nya: itu tidak ada di materi, nanti saja kita kejar target dulu, atau ikuti saja yang ada di buku.
Sampai sini, sekolah berubah menjadi pabrik jawaban, bukan lagi tempat atau ruang pencarian. Dan hasil akhirnya anak-anak tidak sedang belajar untuk memahami dunia, melainkan belajar untuk menyesuaikan sistem, mereka juga tidak diajak berdialog dengan kenyataan, melainkan mereka dipaksa menelan kenyataan dengan versi yang sudah dibakukan. Di sinilah sekolah mulai mengalami dehumanisasi! Mungkin agak nyelekit untuk didengar, tapi memang begitulah kenyataannya. Anak dipandang sebagai sebuah bejana kosong yang perlu diisi sesuka hati. Jika ingin pandai matematika, maka isi dengan matematika. Jika ingin pandai tentang mesin, maka isi dengan materi tentang permesinan dan seterusnya. Apakah hasilnya semuaskan sejauh ini? Renungkanlah!
Sekolah sungguhan merupakan sekolah yang berani untuk membawa murid ke luar kelas baik secara harfiah maupun simbolik. Jika ingin mamahami udang, maka bawalah mereka ke tambak. Biar mereka melihat air keruh, biar mereka tahu baunya lumpur, biar mereka mengamati udang yang sehat dan udang sakit. Biarkan mereka bertanya pada petambak secara langsung tentang gagal panen, tentang obat mahal yang tidak selalu manjur, dan tentang ketergantungan pasar dan kondisi cuaca. Dari sinilah, teori akan terasa hidup dan bukan berdiri sendiri sebagai realitas, tetapi berdialog dengannya serta dari sinilah kita akan tahu bahwa sejatinya belajar bukan melulu soal benar dan salah, melainkan soal memahami kompleksitas.
Sekolah sungguhan tidak memperlakukan murid layaknya bejana kosong yang perlu diisi apalagi menganggapnya seperti tanah liat yang bisa dibentuk sesuka hati. Murid harus diperlakukan sebagai menusia yang sedang tumbuh dengan rasa ingin tahu, pengalaman, dan sudut pandangnya masing-masing. Dalam hal ini guru bukan lagi pusat kebenaran, melainkan pemandu belajar. Kurikulum bukan kitab suci, melainkan sebuah peta yang bisa disesuaikan. Dan pengetahuan juga bukan dogma, melainkan proses. Serta dengan ini murid diajak untuk memahami, bahwa ilmu pengetahuan selalu berada dalam konteks sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Dari sini pula, murid diajak untuk memahami, bahwa teori lahir dari sesuatu kondisi dan bahwa penelitian ilmiah selalu memiliki keterbatasannya masing-masing. Jika hal ini berjalan, maka murid tidak hanya menjadi pintar, melainkan menjadi kritis dan rendah hati.
Dalam dunia yang kompleks dan serat akan kepentingan, kemampuan terpenting bukanlah menghafal teori, melainkan mengamati, mepertanyakan, membandingkan, dan menarik kesimpulan sendiri. Sekolah sungguhan harus mampu meyiapkan murid untuk hidup, bukan sekedar untuk ujian. Kalau kata Ki Hadjar, pendidikan harus mampu menghantarkan manusia layaknya manusia yang mampu merdeka secara pikiran dan tenaga, yang mampu mandiri dan mampu menghadapi ketidakpastian dalam kehidupan.
Sekolah sungguhan. Yaah memang sulit menjelaskan tentang esensi pendidikan dengan konteks dan praktik-praktik sekolah masa kini. Dan pada akhirnya kegelisahan ini bukan soal metode belajar, melainkan tentang bagaimana cara kita memandang murid layaknya manusia seutuhnya, apakah murid itu kita anggap sebagai makhluk hidup yang berpikir atau sekedar target capaian kurikulum? Sekolah yang jauh dari realitas kehidupan, maka akan melahirkan generasi yang fasih akan teori namun gagap menghadapi kenyataan. Sebaliknya, sekolah yang berani untuk membuka diri pada dunia, maka akan melahirkan generasi yang tidak hanya tahu, tetapi juga generasi yang mengerti.
Sekolah sungguhan bukan tempat untuk menumpuk sebuah kebenaran, melainkan tempat untuk merawat dan memupuk pertanyaan. Ia juga bukan tempat untuk memproduksi kepatuhan, tetapi tempat untuk menumbuhkan kesadaran. Dan mungkin, dari sanalah pendidikan yang sesungguhnya terjadi, bukan hanya dari kurikulum, bukan hanya dari buku, melainkan dari keberanian untuk belajar secara langsung dari alam itu sendiri. Sekolah sungguhan. Aneh yaa. Apakah sekolah kita benar-benar sekolah sungguhan? Ya pikirkanlah!

