Mimpi yang Tak Boleh Tumbang

Kala itu di desa kecil dan pelosok, desa yang tertinggal akan teknologi dan informasi, tempat di mana seluruh penduduk desa tak tahu teknologi yang canggih, yang mereka tahu hanyalah hasil bumi dan memiliki gubuk untuk berteduh, tempat di mana harapan dan mimpi tak akan tumbuh.

Perkenalkan namaku Sekar yang berarti bunga, lambang keindahan, dan harapan, yaa sesuai dengan namaku, ibuku memberikan nama itu untukku sebagai harapan atas segala impian. Ibuku kecil adalah gadis pemimpi yang hebat, mimpinya yang terlalu tinggi terbanting oleh adat pada kala itu, ibuku kalah dalam peperangan antara mimpi dan adat. Semua impiannya hancur pada saat iya menikah, dan itulah yang terjadi terus-menerus di desa kami, para perempuan dididik dan dilatih untuk menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga.

Para perempuan desa bahkan tak berhak bermimpi dan mengajar impiannya tersebut, namun berbeda dengan ku, ibuku melatihku untuk terus bermimpi, mengajariku agar tak tumbang saat aku terjatuh, tak menyerah dan tak boleh kalah dengan norma adat desa yang tak tertulis. Dan ia juga bilang tak ada batasan dalam bermimpi, namun aku tahu batas bebas mimpiku hanya pada usiaku 20 tahun dan bila aku gagal, maka aku bernasib sama dengan perempuan lain.

Ibuku terus mendukungku untuk terus bermimpi sampai akhirnya aku tumbuh menjadi gadis pemimpi. Aku menyampaikan mimpiku ke seluruh temanku baik laki-laki maupun perempuan banyak diantara mereka yang bilang kepadaku bahwa

“ Alah Sekar, sadar dirilah dikit kau ini hanya seorang gadis yang hidup di desa, tugasmu saat remaja nanti hanyalah menikah dan mengurus rumah tak perlulah kau bermimpi tak pantas rasanya”.

Namun para perempuan tertarik akan mimpiku, mimpi keluar negeri dan keliling dunia, mimpi menjadi gadis yang berpendidikan dan berkarir, mereka banyak yang tertarik pada mimpiku. Satu persatu tangan mereka mulai menggenggamku dan mengatakan:

Fakta Menarik: Oksigen Adalah Racun Bagi Kehidupan Purba!

“Mari Sekar kita wujudkan mimpi itu bersama, mari kita keliling dunia dan mengejar pendidikan kita bersama”.

Pada saat itu bola mataku membuka secara lebar dan senyumku merekah, aku benar-benar bahagia pada saat itu. Membuat aku terus menyampaikan mimpiku setiap harinya pada mereka di bawah pohon yang rindang tempat kita bermain, sekarang aku tak sendiri bermimpi di bawah pohon rindang itu juga. Aku berbicara pada semua teman-temanku bahwa aku ingin pergi ke London dan bersekolah di sana dan pada saat itu aku mendengar teman-temanku menyebutkan negara impiannya.

“aku juga ingin ke Swiss, aku juga ingin ke Yaman, aku ingin ke Cina, aku ingin ke Korea agar bertemu dengan oppa-oppa”.

Ujar salah satu temanku yang membuat tawa kita pecah di bawah pohon itu, kita sama-sama menertawakan hal itu.

Hari mulai gelap, kita semua pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya saat aku ingin pergi ke pohon rindang  itu tempat kita bermain, aku melewati rumah temanku Laras aku melihat kegaduhan di depan rumahnya, aku melihat Laras menangis begitu kencang sembari dipeluk ibunya aku mendengar ayahnya berucap:

“kau harus menikah dengan lelaki itu, kau tahu kan orang tuamu ini miskin! ini usiamu bukan lagi anak-anak berhenti bermain terutama dengan Sekar bocah yang membuatmu bermimpi-mimpi tak jelas kau tahu kan kodratmu itu menjadi istri percuma kau mau berpendidikan karena ujung-ujungnya kau tetaplah ibu rumah tangga yang harus patuh pada suami”.

Setelah mendengar semua itu aku pergi berlari ke rumahku dan kembali lari masuk ke dalam kamarku sembari menangis, lalu ibuku tak lama datang mengetuk pintu

“nak ini Ibu…. boleh ibu masuk?”

 “boleh bu…” Jawabku  

Ibu masuk ke dalam kamarku dan memelukku mengusap air mataku dengan tangannya sembari berucap:

“kenapa sayang?”  

Sembari menangis, aku menjawab:

“kenapa mereka semua jahat? mereka semua menghancurkan mimpi kami, membunuh kami dalam tradisi apa aku akan bernasib sama dengan Laras Bu?”

 Tidak. Kau berbeda dengan Laras, mimpi yang ada dalam dirimu itu tidak akan pernah hilang ia mengalir di aliran darahmu kau tak akan tumbang kau pasti berhasil, Ibu yakin kau tak akan kalah dengan tradisi dan adat ini. Katamu kau ingin bersekolah di London kan? Ibu sangat mendukungmu, jadi ibu yakin kau pasti bisa nak”. Jawab ibuku yang berusaha meyakinkanku.

Senyumku kembali, semangatku perlahan muncul kembali. Keesokan harinya aku menemui teman-temanku di bawah pohon rindang tempat kita bermain seperti biasanya, salah satu temanku Sri bertanya kepadaku:

“Sekar usia kita sudah hampir remaja sebentar lagi waktu bermimpi Kita habis lalu apa yang harus kita lakukan? sekarang kami semua sudah belajar dengan sangat sungguh-sungguh nilai kami pun semua naik secara gratis di sekolah, tapi bagaimana caranya kita bisa melanjutkan bersekolah di luar negeri itu sekarang?”.

Sekar terdiam, Sekar mulai menyadari bahwa usianya sudah hampir remaja. Ya usia kami semua kini 17 tahun. Keesokan harinya Sekar bangun sangat pagi untuk pergi mencari informasi tentang beasiswa ke luar Negeri.

Sekar membaca banyak koran, mendengarkan berita di radio, dan di TV berharap aku mendapatkan informasi beasiswa ke luar negeri, tak jarang aku meminta bantuan kepada guru di sekolahku agar mau membantuku mencari beasiswa.

Walau tak mudah bagi kami mencari beasiswa, akhirnya Kabar baik muncul. Pada saat itu guruku memberiku formulir pendaftaran beasiswa ke luar Negeri, aku segera memberitahu teman-temanku dan mereka sangat gembira dan bergegas mengisi formulir tersebut, namun sayangnya tak satupun diantara kita yang lolos, beberapa temanku mulai goyah dengan mimpinya tersebut, namun kembali ku yakinkan bahwa kita pasti bisa.

Tak lama aku mendapat formulir pendaftaran beasiswa ke luar negeri lagi, kita semua kembali mengisi semua persyaratan tersebut. Dalam penantian yang menegangkan tersebut kita mendapat kabar gembira, Sri salah satu temanku lolos dalam beasiswa itu, kami semua sangat gembira dan hal itu yang membuat mimpi kami kembali kokoh, namun Sri sempat mendapat penolakan dari keluarganya tentang beasiswa ini, namun setelah perdebatan panjang pada akhirnya Sri  boleh berkuliah di luar negeri.  Kini yang tersisa hanya aku, Dewi, dan Diyah.

Kami bertiga selalu mencari informasi beasiswa sepulang sekolah, bahkan sampai matahari terbenam kami baru pulang kerumah, tapi perjuangan kami tak sia-sia. Kami mendapatkan beasiswa kembali dan kita bertiga lolos dalam beasiswa tersebut, walau itu bukan di London tapi aku tetap bahagia, aku juga mengirimkan pendaftaran beasiswa ke London, namun belum ada jawaban.

Pada akhirnya kita bertiga bersiap untuk meninggalkan desa untuk berkuliah di Singapura, namun tiba-tiba saja ibuku jatuh sakit dan meninggal. Pada saat itu duniaku hancur, impianku musnah, aku benar-benar hancur aku mengurungkan diri di dalam kamar.

Aku mendengar kabar bahwa Dewi dan Diyah pergi ke Singapura, ia pun berpamitan padaku namun aku benar-benar hancur pada saat kepergian ibuku, membuatku menjadi orang yang murung dan selalu mengurungkan diri di dalam kamar, banyak orang yang datang menghiburku katanya:

“Sekar mana mimpimu yang tinggi itu! mengapa sekarang tak terlihat mana semangatmu itu sekar?”.

Dalam hatiku berbisik “mimpiku sudah hilang, mimpiku ikut terkubur bersama ibuku.” Namun tak lama aku kembali teringat dengan kata-kata ibuku

Nak, kau adalah harapan. Kau lahir dari impian dan keinginan. Ibu kalah nak…  ibu tak ingin melihatmu juga kalah, jangan pernah tumbang Ibu boleh tiada namun mimpimu harus tetap ada.”

Sekar mulai menyadari bahwa ia adalah harapan yang harus diwujudkan.

Keesokan harinya aku mulai membuka pintu kamarku setelah berbulan-bulan mengurung diri. Aku mulai menjalani kehidupan sebagai gadis desa yang kalem dan polos, namun di pagi itu, saat aku sedang menyiram bunga terdengar dari kejauhan guru ku memanggil

“Sekar!… Sekar!… Sekar!….”

Berlari ke arah ku sambil terengah-engah, Pak Edi (guru Sekar) berusaha menjelaskan bahwa persyaratan yang ia kirimkan untuk beasiswa di London diterima, dan Sekar lolos dalam seleksi tersebut, aku yang tak percaya hanya terdiam dan aku juga masih dalam kesedihan besar setelah kepergian ibuku, namun Pak Edi berusaha untuk meyakinkan Sekar.

“ Sekar ini adalah mimpimu dan ibumu, ini adalah waktunya sebelum kau kalah dalam tradisi dan mengulangi kesalahan yang sama dengan ibumu”.

Aku hanya  mengangguk dan tersenyum tipis namun aku menyadari bahwa benar ini adalah impian kita bersama aku dan ibuku, lalu ku berucap.

Baik bapak saya akan pergi ke London, dan kembali ke desa dengan penuh pengetahuan baru dan merubah pola pikir warga desa. Saya akan wujudkan impian dan harapan ibu saya”.

Kepergian Sekar dan kawan-kawan membuat sebagian warga desa menyadari bahwa semua orang berhak bermimpi dan mengejar impiannya tersebut, dan dari situ sedikit harapan tentang impian akhirnya tumbuh di desa kecil kami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *