Prolog- Mesin yang Tidak Mencari Masa Depan

Ellena- seperti biasa, setiap pagi buta ia selalu bangun dan membantu ibunya di dapur. Selapas itu, ia bergegas mandi lalu bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Bersama dengan adiknya Raka, mereka menaiki sepeda kecil dan tas slempang serta dengan rambut ikal ciri khas Ellena, ia berjalan menyusuri persawahan dekat rumahnya.

Tiba sampai di pintu gerbang sekolah Raka, ia selalu mengamati sejenak ekspresi anak-anak temannya Raka ketika sampai di sekolah. Ternyata sama halnya  Ellena, anak-anak itu nampak tidak bahagia. Ada yang menangis, ada yang enggan turun dari kendaraan, dan terkadang juga ada yang pulang kembali ke rumah. Ellena, selalu merasa heran tentang ekspresi anak-anak itu ketika hendak memasuki sekolah: murung, tertekan, dan seolah ia sedang memasuki dunia yang menakutkan.

Ah, pikiran bodoh macam apa ini. Sekolah kan tempat belajar, kenapa anak-anak justru takut. Tutur Ellena, yang kemudian ia melanjutkan perjalanannya.

Sewaktu ia masih kecil, Ellena merasa mungkin wajar kalau mereka seolah takut dengan sekolah, karena ia baru pertama kali. Nanti kalau sudah dewasa juga bakal terbiasa. Namun, perasaan itu ternyata salah. Setelah Ellena dewasa, ia pun merasa sama saja. Teman-teman Ellena tidak memiliki semangat untuk belajar, bolos sekolah, dan kadang juga mereka tidur di dalam kelas. Namun, lagi-lagi Ellena menghempaskan perasaan yang sudah lama mengganggunya.

Ellena sampai di sekolah, ia bergegas masuk ke ruang kelas dan duduk di bangku paling tengah dekat jendela. Setiap ruang kelas selalu ada Banner besar yang bergantung di dinding paling atas. Biasanya bertuliskan. Sekolah adalah kunci masa depan.

Kado Tahun Baru untuk Indonesia

Selama proses pembelajaran berlangsung, Ellena tidak begitu memperhatikan. Ia selalu memandang ke arah persawahan dari balik jendela kelas. Ia melihat bagaimana para petani menamam padi, membuat parit, memasukkan air ke sawah, dan mencabut rumput-rumput liar.

Andai saja belajar bisa dilakukan secara langsung: turun ke lapangan, melihat, mencatat, dan mengamati, pasti sangat menyenangkan. Pikir Ellena.

Di balik suasana kelas yang sunyi, tidak ada pertanyaan, apalagi dialog, yang terdengar hanya guru menjelaskan materi. Tiba-tiba suara bel berbunyi, pertanda kegiatan sekolah telah usai. Ellena dan teman-teman pun bergegas untuk pulang.

Selepas Ellena dan Raka pulang sekolah, mereka selalu bermain bersama di gudang belakang rumah. Rumah dan gudang itu adalah peninggalan kakek Ellena.

Tidak ada yang aneh dengan gudang tua itu, kecuali satu hal: waktu seolah berhenti di sana. Yaa, di saat Ellena bermain di sana, perasaan-perasaan yang selalu mengganggu di kepala seolah terlihat jelas. Seperti sebuah isyarat, bahwa itu bukan pikiran biasa, melainkan keresahan yang nyata.

Pada suatu sore, ketika langit tiba-tiba gelap, yang tidak lama kemudian hujan turun. Ia duduk bersila di sebuah kursi tua milik kakenya, sementara adiknya, yang selalu memiiki rasa penasaran yang tinggi berjalan ke sana ke mari mencari apapun yang bisa dibuat sebagai mainan.

Ini apa kak? Tanya sang adik, mengangkat sebuah kotak hitam tua berdebu, bentuknya hanya kotak. Mereka belum pernah melihat benda semacam itu di tempat mana pun dan di buku mana pun.

Ellena tidak langsung menjawab pertanyaan sang adik, ia menatap kotak hitam yang dipegang Raka itu dari kejauhan. Ia merasa, bahwa kotak hitam tua itu seolah yang memberi isyarat-isyarat yang selama ini menghantui pikirannya tentang:

Mengapa kita harus menghafal, tapi jarang memahami?

Mengapa sejarah terasa seperti daftar tanggal yang mati, bukan kisah manusia yang hidup?

Dan tentang mengapa seolah belajar punya garis akhir?

Ellena adalah gadis berumur 16 tahun. Umur yang kebanyakan orang dinilai terlalu muda untuk mempertanyakan segalanya, namun terlalu tua untuk menerima jawaban-jawaban seadanya.

Adiknya berumur 11 tahun, ia belum memikirkan tentang makna-makna kehidupan, namun Raka tahu tentang sesuatu hal yang pasti, yakni dunia lebih besar jika dibandingkan dengan buku-buku cetak yang diterimanya di sekolah.

Ellena kemudian mendatangi adiknya. Dengan penuh penasaran Ellena pun memegang kotak hitam tua tersebut.

Ketika jari-jari Ellena menyentuh kotak itu, seolah ada perasaan yang benar-benar nyata, bukan perasaan mistik, tapi perasaan yang mendorongnya untuk membuka kotak hitam tua itu. Dengan penuh kehati-hatian Ellena membuka kotak itu, seketika udara di sekeliling gudang tua belakang rumah seakan berubah.

Bukan berputar.                                                   

Bukan pula bergetar.

Melainkan.. mengendur seperti sebuah tirai yang ditarik ke samping. Seperti, akan ada sebuah pertunjukan.

Ellena menelan ludah.

Sambil ia membayangkan perasaan-perasaan yang telah lama mengganggu pikirannya. Tanpa diaba-aba ataupun dihitung mundur, tiba-tiba Ellena dan Raka terjatuh.

Mereka terjatuh-

Ke tempat di mana sebelumnya hanya terbayang di kepalanya.

Ke tempat di mana belum pernah ada seorang pun yang menginjakkan kakinya.

Di sanalah, perjalanan Ellena dan adiknya Raka dimulai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *