Kembalinya Mimpi dan Harapan

suroyaproject.com-Pagi yang cerah, di desa lembah asa. Semua warga desa memulai aktivitas paginya seperti biasanya. Ayah pergi ke ladang berjalan kaki, ibu mengurus rumah dan menyiram bunga di pagi hari, anak-anak bermain dan ada juga yang pergi bersekolah.

Lembah asa adalah desa yang elok akan keindahan alamnya, juga kedamaiannya yang begitu terasa, desa yang masih kental akan tradisi, budaya dan norma-norma adatnya, menyebabkan desa tersebut sukar untuk menerima kemajuan zaman.

Perkenalkan Sekar, gadis pemimpi yang tak tahu diri, tapi karena ketidak tahu diriannya ini membuatku kini dia melanjutkan pendidikanku di negara impiannya London. Yaa. Sekar adalah gadis pemimpi namun dia bukanlah gadis yang mudah tumbang, yang membuatnya kini dapat meraih salah satu impiannya yaitu berkuliah di London.

Namun Sekar tak sendiri menjadi gadis pemimpi, sahabat-sahabatnya pun tak kalah dalam bermimpi, Sri, Dewi, dan diyah mereka semua kini melanjutkan pendidikannya di luar negeri.

Mereka berempat pergi meninggalkan desa, namun mereka juga berjanji akan kembali dan mewujudkan harapan dan impiannya untuk merubah pola pikir warga desa yang kuno dan kolot.

Kini sudah tiba waktunya mereka semua kembali ke desa dan mewujudkan harapannya, pada saat itu warga desa menyebut mereka dengan sangat gembira dan hangat, yang membuat mereka yakin bahwa akan sangat mudah merubah pemikiran warga desa lembah asa.

1 minggu setelah kepulangan mereka ke desa, mereka berempat memulai merencanakan cara untuk mewujudkan harapan mereka untuk mengubah pola pikir masyarakat desa lembah asa yang kuno dan kolot, tetapi mereka sadar merubah pemikiran mereka sangatlah sulit karena para warga desa masih percaya bahwa hidup terbaik adalah hidup seperti yang diwariskan leluhur tanpa banyak perubahan. Dalam perkumpulan tersebut Sri bergumam

“desa ini masih sama, segalanya terasa sama pada saat kita kecil.”

Sekar menjawab

“hal itu yang menjadi masalah kita sekarang. Kau ingat apa mimpiku dan alasanku untuk pergi mengejar pendidikanku ke luar negeri, impianku adalah mengubah pola pikir warga desa dan membebaskan impian anak-anak desa.”

Keesokan harinya, Sekar dan kawan-kawan memberanikan diri untuk mengumpulkan warga desa lembah asa dan memperkenalkan gagasan kepada warga desa tentang pendidikan berbasis teknologi, pertanian modern, dan keterbukaan terhadap dunia luar. Namun sambutan yang ia terima jauh dari kata hangat, bahkan ia mendengar salah satu warga desa yang sudah tua berbisik

“perempuan kok jauh-jauh ke luar negeri eeh ujung-ujungnya balik ke desa lagi, mana ngurus pertanian segala lagi tanpa belajar ke luar negeri pun kami sudah tahu anak muda.”

“Iyaa benar pemuda zaman sekarang cuma ngomong teori aja, tidak paham adat. Pemuda yang merusak tradisi”.

kami semua hanya terdiam tak lama kepala desa pak Budi berucap 

“kami menghargai niat baik kalian, tapi desa ini sudah berjalan seperti ini puluhan tahun dan tak pernah ada masalah kami sebagai warga desa sangat menghargai adat dan tradisi dan tidak pernah ada yang merasa dirugikan dengan hal itu”.  

Prolog-Mesin yang Tidak Mencari Masa Depan

Sekar dan kawan-kawan hanya dapat menunduk, kata-kata itu menusuk lebih tajam dibandingkan dinginnya musim salju di London. Namun Sekar dan kawan-kawan tidak menyerah, Sri salah satu teman Sekar yang ahli dalam bidang pertanian memulai misinya dengan mencoba sistem irigasi sederhana yang lebih hemat air, pada awalnya idenya ditolak warga desa dan menganggap hal itu sia-sia karena bagi warga desa secara lama sudah cukup bagi mereka.

Sekar membuka kelas baca tulis digital bagi anak-anak desa di serambi masjid, dengan jaringan internet yang seadanya, anak-anak tertawa mereka mulai belajar mengenal dunia luar lewat layar kecil.

Sementara Dewi membantu para pemuda-pemuda desa untuk dapat menyusun proposal usaha kecil berbasis potensi lokal yang akan meningkatkan nilai jual barang lokal dan menambah keekonomian warga desa.

Sedangkan diyah, memilih untuk mendekati para ibu-ibu, mendengarkan keluh kesah mereka, kesedihan mereka terhadap anak perempuan-perempuannya yang harus dipaksa menikah muda dan mengurus rumah.

Dari sana diyah menanamkan gagasan bahwa perubahan bukanlah musuh tradisi, melainkan cara menjaga agar tradisi tetap hidup di era modern ini. Perlahan warga desa mulai penasaran dengan cara bertani yang dilakukan Sri, karena sawahnya menghasilkan panen yang lebih baik dibanding warga desa lainnya dan lebih menghemat air.

Para ibu-ibu pun mulai penasaran dengan cara mengajar Sekar yang menyebabkan anak-anak begitu bersemangat untuk belajar. Dan usaha yang dilakukan Dwi memberdayakan masyarakat dengan membuka usaha kecil dari produk lokal pelan-pelan mulai ada yang memesan dari luar desa, namun tak lama konflik besar pun muncul akibat dari pemasangan internet desa yang telah kita usulkan.

Sekelompok warga desa menolak hal itu, bahkan mereka tak sungkan untuk memaki-maki kita semua di hadapan semua warga desa, mereka bilang bahwa “hal itu akan berpengaruh buruk terhadap warga desa dan merusak moral adat dan tradisi yang sudah lama kita yakini”.

saut warga desa yang lain

“yaa benar internet akan merusak moral!”.

Kami semua begitu ketakutan akan amarah warga desa, namun dengan tubuh yang gemetar karena ketakutan, Sekar memberanikan diri untuk berbicara di depan warga desa dengan suara yang lantang dan tegas ia berucap

“yang merusak bukanlah teknologinya, tetapi bagaimana cara kita dalam menggunakannya. Apa jadinya bila kita terus-terusan menutup diri terhadap teknologi?  

bagaimana dengan nasib anak-anak kita?  

Mereka akan tertinggal, dan jika kita mau membimbingnya saya yakin mereka semua akan melangkah lebih jauh tanpa melupakan siapa mereka, seperti layaknya pohon yang terus bertumbuh ke atas namun kuat akan akarnya, begitupun dengan anak-anak kita, Saya yakin mereka akan tumbuh dengan menjadikan adat dan tradisi sebagai penguat mereka, tapi biarkan mereka melangkah lebih jauh saya dengan kerendahan hati memohon kepada semua warga desa agar mau membuka diri terhadap kemajuan zaman dan teknologi.”

Kemudian suasana hening menyelimuti balai desa tempat mereka berkumpul, banyak warga desa yang mulai menyadari betapa kejamnya ia pada anak-anak dan perempuan. pak Budi menatap Sekar lama lalu menghela napas panjang

“aku melihat ibumu dalam dirimu pemimpi yang keras kepala, dulu ibumu kalah dalam peperangan antara tradisi dan mimpi, namun sekarang bapak yakin kau tak akan kalah, kau orang yang tulus Sekar.”

Pada akhirnya di balai desa tersebut keputusan pun diambil, keputusan yang menjadi awal perubahan warga desa karena desa lembah asa pada akhirnya perlahan mau membuka diri terhadap teknologi atas kesepakatan bersama.

Beberapa bulan setelah peristiwa itu berlalu, kini desa lembah asa terasa semakin bahagia, dengan kemudahan teknologi yang mereka terima membuat pekerjaan di sawah terasa lebih mudah, anak-anak pun lebih bersemangat belajar, dan perlahan anak- anak pun mulai merajut mimpi mereka.

Kini desa terlihat tak lagi sama, tetapi tradisi masih tetap kami jaga bahkan kini tradisi dapat berdampingan dengan ilmu dan teknologi. dan anak-anak tak takut lagi membicarakan mimpinya kepada orang tuanya, ada yang ingin menjadi guru, peneliti, dokter dan pengusaha, mereka tak pernah malu mengakui bahwa ia berasal dari desa.

Suatu sore di bawah pohon besar tempat mereka kecil berkumpul bersama dan membicarakan mimpinya, Sekar dan kawan-kawan duduk di bawah pohon besar itu, matahari tenggelam dengan memberi warna jingga yang hangat.

“kita berhasil?” tanya Sri

Sekar tersenyum

“belum sepenuhnya, tapi setidaknya mimpi sudah kembali dan harapan kini dapat tumbuh.”

Keesokan harinya, Sekar pergi ke makam ibunya dan berucap

“Ibu aku berhasil menumbuhkan impian dan harapan di desa ini Bu… sekarang anak-anak dan perempuan bebas bermimpi Bu…”

Seketika angin desa berhembus lembut seolah ikut menyetujui perkataan Sekar. desa lembah asah kini tak menolak masa depan ia hanya sedang belajar menerimanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *