Mimpi yang Aneh

Gerimis menyelimuti suasana malam hari di rumah Ellena. Rumah Ellena yang dekat dengan area persawahan menambah suasana sunyi malam itu, ditambah suara-suara katak yang berbunyi layaknya irama simfoni, membuat nya semakin lelap tertidur.

Sejauh ini Ellena selalu nyenyak tertidur, di tengah tidurnya pun dia tidak pernah memimpikan hal-hal yang janggal maupun muskil. Namun, malam itu berbeda. Perjalanan yang penuh dengan teka-teki yang telah dia lewati tadi sore bersama adiknya, membuatnya merasa gelisah, yang terkadang ia juga bangun di tengah malam.

Sesekali ia menuju ke arah jendela kamar tidurnya, melihat gudang tua yang telah membuat bingung sekaligus penasaran, berharap bisa melihat sosok misterius yang mungkin saja telah memata-matai dia saat malam hari.

Namun, sepertinya malam itu tidak ada hal yang mencurigakan di gudang tua belakang rumah, hanya terlihat lampu neon kuning yang dikerubungi hewan-hewan kecil, yang kalau orang-orang desa menyebutnya rengit (Jawa). Karena tidak melihat hal yang mencurigakan, Ellena pun kembali melanjutkan tidurnya, karena dia harus bangun lebih pagi untuk membantu ibu nya di dapur seperti biasa.

Di tengah tidurnya itu, Ellena memimpikan sesuatu yang sangat aneh, dan sepertinya mimpi itu muncul akibat kegelisahannya tentang teka-teki yang mustahil untuk dipecahkan.

Seorang anak kecil beramput pendek dan acak, tiba-tiba muncul di mimpi Ellena. Anak itu memakai baju hitam dengan corak bintang-bintang yang ada di luar angkasa, tatapannya pun terlihat tua. Dia tidak mirip dengan Raka, umurnya pun terlihat lebih muda jika dibandingkan dengan Raka.

Anak itu sedang bermain dengan beberapa hewan-hewan yang Ellena miliki, seperti ayam, kucing, angsa, dan domba. Ia melihat anak kecil itu duduk di sebuah tangga dengan dikelilingi hewan-hewan tersebut.

Dia terlihat tidak  sedang bermain kejar-kejaran, ataupun permainan anak-anak pada umumnya. Sebaliknya, dia memainkan balon berwarna merah. Memang tidak ada yang aneh jika seorang anak kecil bermain balon, namun kali ini di dalam mimpi Ellena, dia melihat anak kecil itu meniup balon berkali-kali.

Dia meniupnya, lalu meledak.                              

Dia tiup lagi, dan meledak lagi.

HANTU DALAM PIKIRAN

Dia terus meniup balon berkali-kali, ia tidak beraksi meskipun balon tersebut juga meledak berkali-kali, dan hewan-hewan itu pun terdiam, seolah tahu sesuatu. Lebih aneh lagi, hewan-hewan itu selalu bertambah jumlahnya, ketika satu balon meledak. Dari mimpi yang aneh dan janggal tersebut, Ellena tiba-tiba terbangun lagi.

Mimpi yang aneh, bagaimana bisa aku bermimpi seorang anak kecil yang aku pun tidak pernah bertemu dia sebelumnya. Apalagi melihat dia bermain balon-balon itu, pikiran konyol apa yang menyelimuti anak itu, balon ditiup dan meledak, ia meniup lagi, dan meledak lagi. Anak yang aneh. Tutur Ellena dengan suara yang agak gemetaran.

Tapi, rasanya itu bukanlah mimpi biasa.

Sepertinya ada kaitannya dengan apa yang aku pikirkan soal kekacaun-kekacaun itu.

Apa mungkin sosok misterius yang bersembunyi di balik kotak hitam tua itu datang dalam mimpi ku dengan meminjam wajah anak kecil itu? Entahlah. Sambung Ellena dengan perasaan yang makin membuatnya penasaran.

Ellena melihat jam dinding, yang tergantung di kamarnya. Yang ternyata jam sudah menunjukan pukul 04.00. Dia tidak melanjutkan tidurnya, sebaliknya dia turun dari kamarnya yang berada di atas menuju dapur untuk membuat teh hangat, berharap bisa meredakan rasa penasaran Ellena. Tak berselang lama terdengar suara dari kamar ibu nya.

Ngeek, suara pintu dibuka dibarengi dengan sapaan pagi ibunya.

Looh Ell, tumben jam segini sudah bangun? Inikan masih jam 4.

Apa kamu eggak tidur semalaman? Tanya ibu Ellena sambil menghidupkan lampu dapur.

Tidur kok bu, jawab Ellena

Aku hanya bangun agak lebih dulu, karena aku tadi malam bermimpi hal yang aneh saja.

Aku bermimpi seorang anak kecil meniup balon, yang kemudian balon itu meledak. Dia pun ditemani hewan-hewan yang duduk mengelilinginya. Apa ibu tahu arti mimpi itu? Tanya Ellena, yang mungkin saja ibunya tahu soal mimpi itu.

Ibu Ellena hanya menjawab hal yang sederhana, bukan menjelaskan mimpi aneh itu, melainkan ia menjelaskan soal mimpi, yang terkadang muncul karena pikiran-pikiran kita sebelum tidur.

Sepertinya masuk akal, pikir Ellena.

Masuk akal apanya Ell? Tanya ibu dengan nada yang penuh dengan rasa penasaran.

Nggak bu. Jawab Ellena sembari mengajukan pertanyaan, yang terdengar aneh pada ibunya

Eh,, ibu tahu tidak soal apa yang ada sebelum adanya sesuatu, atau ibu tahu tidak apa yang terjadi ketika belum ada apa-apa sehingga saat ini ada apa-apa di alam semesta ini?

Eell,, kamu tidak pernah menanyakan hal-hal yang aneh seperti itu sebelumnya, Jawab ibu Ellena sembari tertawa ringan. Sepertinya seorang pria telah membuat mu berimajinasi terlalu jauh berkat cintamu padanya.

Yaa. Ellena sudah bisa menebak, bahwa pasti ibunya akan menjawab sesuatu yang konyol itu dengan mengaitkannya tentang masalah cinta. Padahal, Ellena belum tertarik membahas cinta-cinta, apalagi dari seorang lawan jenis. Bukan karena tidak mau, Cuma ketika Ellena melihat teman-teman nya yang sedang jatuh cinta, rata-rata seperti orang bodoh.

Karena tidak mendapat gambaran yang sesuai harapan, Ellena pun kembali melakukan aktifitas rutin di pagi hari, yakni bantu-bantu ibu di dapur.

Sesekali Ellena menengok ke arah gudang tua belakang rumah dengan harapan yang sama sebelumnya; dia berharap melihat sosok misterius penghuni kotak tua atau berharap melihat anak kecil bermain balon, yang datang di mimpi nya tadi malam.

Sepertinya sia-sia, dia tidak menemukan seseorang pun, yang muncul dari dalam gudang tua itu. Sembari beres-beres, Ellena melanjutkan aktivitas rutinnya, yakni berangkat ke sekolah. Dia sudah berencana, ketika sampai di sekolah dia akan langsung menuju perpustakaan sekolah untuk mencari tahu tentang segala sesuatu yang terjadi jauh sebelum ada nya sesuatu, termasuk waktu.

Yaa. Kali ini, rasa penasaran Ellena menghantarkannya pada pertanyaan besar, yang belum tentu dimiliki oleh remaja seusianya, bahkan orang-orang dewasa sekali pun, tentang;

Bagaimana jika dulu tidak ada apa-apa?

Tidak ada bumi, bahkan tidak ada waktu.

Lalu sesuatu yang dahsyat terjadi. Ledakan-tapi bukan seperti bom, melainkan seperti balon yang ditiup anak kecil yang datang di mimpinya itu. Ia seperti rahim yang terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *