Anak Bukan Halaman Kosong: Mengapa Kurikulum Harus Mengikuti Murid, Bukan Sebaliknya?

Anak adalah makhluk mentah yang perlu dimasak, dibentuk, dan diarahkan. Anak juga makhluk yang dangkal yang perlu diperdalam. Kewajiban dia adalah menerima. Kewajiban dia adalah menangkap. Tugas dia sudah selesai bila mana dia tunduk dan patuh.

Suroyaproject.com-Setidaknya sepenggal kata tersebutlah yang cocok untuk menggambarkan bagaimana pendidikan kita saat ini berjalan dan memandang makhluk unik pelaku pendidikan (siswa) ini: Siswa dipandang sebagai sebuah bejana kosong yang perlu diisi, siswa juga dipandang sebagai kertas putih yang bisa kita coret-coret sesuka hati, serta siswa juga ibarat tanah liat yang bisa dibentuk menjadi apa saja, melalui kurikulum! Yaps.. kurikulum yang disusun oleh birokrat dan ahli. Setidaknya sudah 12 kali sejak kemerdekaan, Indonesia telah menyusun dan mengganti kurikulum sampai terakhir di tahun 2022.

Kurikulum menilai, bahwa bidang studi lebih penting dibanding isi pengalaman si anak sendiri. Seolah Ia sedang memberi pesan: apakah sebenarnya dunia anak itu egoistis yang berpusat pada diri sendiri serta impultif?, maka melalui bidang studi dalam kurikulum inilah akan ditemukan jawaban tentang kebenaran, hukum, dan tatanan objektif.  Apakah pengalaman anak dan pikirannya itu kacau balau serta tidak menentu?, maka melalui bidang studi dalam kurikulum inilah nantinya anak akan tahu tentang semesta yang telah ditata melalui kebenaran abadi, yakni sebuah jagat yang sudah diukur, didefinisikan, dan diatur. Maka tugas kurikulum adalah mengabaikan, menghilangkan minat-minat dan pengalaman anak. Sedang tugas pendidik adalah menggantikan urusan superfisial dan kasual itu dengan kenyataan-kenyataan yang sudah tertata rapi dan sebuah kenyataan yang tertata rapi tersebut ada dalam bidang studi dan pelajaran.

Bayangkan seorang anak yang duduk di ruang kelas pada pagi buta setiap harinya ia dikenakan segudang pelajaran yang harus ia kuasai, IPA, IPS, PKN, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematik, Agama, Olahraga, bahkan muatan lokal. Semua itu menumpuk dalam satu minggu. Semua harus diikuti. Semua harus dipelajari. Ia mengerjakan semua tugas-tugasnya bukan karena ingin tahu, melainkan karena takut tertinggal oleh kurikulum: belum selesai dan paham halaman satu harus memahami halaman selanjutnya. Sebenarnya ini belajar atau sedang bermain kejar-kejaran?

Saya tidak sedang mengatakan bidang studi itu tidak penting, namun saya mengajak anda untuk merefleksikan kembali tentang kurikulum kita yang disusun oleh pemerintah itu: apakah kurikulum disusun secara kontekstual atau justru terlalu sentralistik? Banyak anak yang mungkin memiliki keinginan dan minat untuk mempelajari segudang mata pelajaran tadi, namun tidak kalah banyaknya juga anak yang ingin mempelajari seni, pertanian, perikanan, peternakan justru dipaksa untuk menghafal rumus-rumus yang tidak terpakai atau malah mungkin tidak sama sekali. Ironisnya, yang memaksa mereka adalah sekolah atas dasar kurikulum pemerintah.

Sampai disini ada beberapa pertanyaan mendasar, sebenarnya apa status siswa dalam pendidikan itu: objek atau subjek? Jika murid adalah objek, lantas mengapa kita sering menggembar-gemborkan tentang konsep pendidikan humanis Ki Hadjar Dewantara? Lalu jika murid adalah subjek, lantas mengapa mereka seolah tidak memiliki suara untuk menentukan apa yang harus mereka pelajarai? Padahal pelaku utama pendidikan adalah siswa, mereka adalah titik tumpu yang artinya semua bidang studi harus tunduk padanya. Kalau menurut Jhon Dewey bidang studi hanya sebuah alat yang tidak berguna jika ia tidak mampu melayani kebutuhan perkembangan siswa.

Pada kenyataannya kita juga akan mengerti, bahwa kurikulum disusun jauh dari realitas kelas. Ia disusun oleh birokrat maupun ahli-ahli pendidikan, bukan murid. Ia dirancang bukan untuk memenuhi kebutuhan siswa. Sebaliknya, ia dirancang agar siswa mengikuti keinginannya. Sebagai contoh, pada semester 1 siswa diharuskan mempelajari geomorfologi (sebuah materi dalam bidang studi geografi), lalu pada semester 2 siswa diwajibkan kembali untuk mempelajari meteorologi. Tanpa perlu saya katakana, pada dasarnya anda akan menilai, bahwa siswa belajar tidak sesuai minat, melainkan belajar sesuai kalender. Kurikulum ternyata tidak peka terhadap minat individu (semua dipukul rata). Guru pun sama, ia beralih fungsi menjadi pelaksana aturan, bukan pendamping belajar. Dari sini apakah kurikulum itu disusun atas dasar kontekstual atau justru terlalu sentralistik? Halo pak menteri!

Anak dalam artian siswa merupakan subjek belajar. Ia bukan objek. Ia ibarat tanaman yang akan tumbuh sesuai kodratnya sebagai tanaman. Belajar itu aktif, belajar juga merupakan kata kerja, oleh sebab itu dalam pengertian pembelajaran sendiri adalah usaha sadar dan terencana. Belajar memerlukan pemikiran yang membuka diri ia melibatkan asimilasi organik yang bermula dari dalam. Singkatnya! Kita hendaknya mampu berdiri di samping anak dan membiarkan anak untuk melangkah atas dasar minatnya, karena yang menentukan kualitas dan kuantitas dari hasil belajar adalah anak itu sendiri. Setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda tidak bisa dipukul rata. Motivasi intrinsik anakpun akan tumbuh ketika ia mimilih sendiri jalur belajarnya.

Belajar dari Montessori dan Paulo Freire. Montessori menilai, bahwa belajar harus mengacu pada pengembangan kemandirian, kebebasan memilih, dan pembelajara melalui pengalaman anak. Freire pun tak ubahnya sama, ia menilai bahwa pendidikan adalah alat pembebasan sosial, melalui dialog dengan siswa untuk secara kritis memahami dan mengubah realitas sosial mereka, serta memberdayakan kelompok yang terpinggirkan. Keduanya sama-sama menilai, bahwa siswa merupakan subjek belajar yang sudah sepatutnya dibebaskan dari pembelajaran yang kaku agar dapat berkembang secara alami. Maka dalam hal ini kurikulum atau singkatnya kita katakan rencana belajar, idealisnya harus disusun oleh siswa itu sendiri selaku subjek dari pendidikan, bukan malah sebaliknya!.

Haaa..kurikulum disusun siswa sendiri? Itu sangat aneh dan tak ubahnya utopia! Begitu setidaknya pikiran anda ketika membaca tulisan ini. Namun, saya bisa menyadari hal itu. Bahwa menyerahkan kendali penuh terhadap penyusunan kurikulum di tangan siswa itu memang tidak mudah. Akantetapi, ini bukan tidak mungkin, karena pada kenyataannya sudah banyak pelaku-pelaku pendidikan yang menerapkan alternatif dan ide ini, seperti Montassori yang membiarkan anak untuk memilih aktivitas belajarnya sendiri, Sekolah Demokrasi (Sudbury) yang memberikan akses bebas terhadap siswa untuk menentukan jadwal dan materi nya sendiri, Homeschooling Mandiri dimana learning pland dibuat bersama dengan murid, dan ada satu yang terkenal di Indonesia, yakni di Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta yang didirikan oleh Toto Raharjo dan Sri Wahya Ningsih, ia memberi kendali penuh terhadap siswa untuk memilih dan menentukan apa yang ingin mereka pelajari, lalu mereka pula (siswa) yang menyusun kurikulumnya dan pendidik adalah fasilitator. Artinya kurikulum yang disusun sendiri oleh murid bukan sekedar utopia. Mau dicoba?

Kalau anda mengiginkan saya untuk mecoba, mungkin hal pertama yang akan saya lakukan adalah membuat kurikulum berbasis murid. Yakni dengan fondasi dasar literasi, numerasi, karakter yang mana ini tetap ditentukan oleh sekolah. Lalu terdapat area pilih murid, seperti seni, sains, teknologi, kewirausahaan, riset, budaya, bahasa, dan olah raga dan yang terakhir murid membuat learning plan, dari sinilah kurikulum pribadi bekerja. Apa yang ingin dipelajari? Metode belajarnya apa? Apa target belajarnya? Dan apa proyek akhirnya? Di sini guru hanya memandu. Lalu untuk evaluasi hasil belajar melalui evaluasi berbasis portofolio bukan sekedar ujian tunggal. Bagaimana Pak Menteri?

Kembali ke pembahasan utama. Apakah layak kurikulum disusun oleh murid? Tentu dan bahkan harus! Melihat bahwa siswa merupakan subjek belajar, ia memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda, maka idealnya kurikulum harus mengikuti anak, bukan anak yang harus mengikuti kurikulum. Murid ibarat sebuah tanaman dan guru ataupun praktisi-praktisi pendidikan ibarat juru tani, maka tak layak jika keinginan juru tani mengalahkan kenginan tanamannya sendiri! Setiap tanaman itu berbeda beda sama halnya dengan anak. Setiap anak itu unik, maka atas dasar itu kita harus berani untuk membebaskan mereka untuk menentukan jalur belajarnya. Jika kita mampu melakukan hal demikian, maka disitulah pendidikan akan menjadi lebih menusiawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *