4 Miliar Tahun Lalu
Akibat dari lemparan ruang dan waktu yang tidak disadari Ellena. Ia terbangun dan mendapati secarik kertas di tangan kanannya, yang mana itu semacam kertas navigasi atau sejenisnya. Ellena tidak tahu persis kertas apa itu, namun ia merasa itu adalah kertas yang sengaja ditinggalkan oleh seseorang yang telah membawanya ke sini. Etntahlah, ellena tidak begitu peduli.
Di tengah rasa bingung sekaligus takjub. Ellena mendapati adiknya duduk terdiam, seolah sedang terhipnotis oleh lingkungan yang sangat asing nan mengerikan itu.
Kak, kita dimana sekarang? Rasanya kita sedang berada di tempat yang sangat asing dan sangat tidak mungkin terjamah oleh manusia. Kata Raka dengan suara agak gemetar.
Ellena tidak langsung menjawab, ia berlari menuju Raka dan mengajaknya mencari tempat yang mungkin dapat dijadikan sebagai tempat berlindung.
Namun, sejauh melangkah mereka tidak menemukan tempat yang bisa dikatakan aman. Semuanya aneh dan menakutkan. Tidak ada pohon, tidak ada danau yang jernih, apalagi pemukiman penduduk.
Duduklah, kaka bawa saptu tangan untuk menutup hidung kita. Kata Ellena dengan penuh kepanikan.
Mereka tidak tahu perisis di mana mereka berada. Mereka kira ini hanyalah mimpi, tapi ini adalah nyata. Ia merasakan udara di situ sangat tidak ramah untuk dihirup, daratan pun sangat keras dan panas, dan petir-petir besar menyambar tidak ada hentinya seolah sedang terjadi peperangan para dewa yang pernah diceritakan nenek nya dulu.
Melihat dan membaca kertas yang Ellena pegang erat, ternyata ia terlempar jauh ke zaman bumi masih muda, yakni 4 miliar tahun lalu. Ellena dan Raka membaca dengan seksama kertas tersebut yang berbunyi:
Halo Ellena, selamat datang di 4 miliar tahun dari zaman mu. kamu dengan berada pada zaman awal bumi masih muda, tidak berwarna biru, tidak sesejuk seperti bumi yang kamu ketahui, dan kamu tidak akan menemukan seseorang pun di sini. Kamu tidak perlu panik, kamu tetap akan bisa bertahan di sini selama kamu masih memiliki kotak hitam dan kertas itu. Selama ini aku tahu tentang semua keresahan dan kegelisahan mu, maka nikmatilah perjalanan ini. Sampai jumpa!
Ellena semakin bingung, bagaimana kotak itu bisa membawa mereka kemari dan bagaimana benda tua itu bisa tahu semuanya tentang Ellena. Tulisan dalam kertas tersebut pun agak acak dan tidak terlalu rapih, tidak ada kop surat, tidak ada siapa penulisnya, apalagi tanda tangannya.
Entahlah, intinya mereka sedang berada pada situasi yang sangat kacau. Yaa, kekacauan di mana-mana, tidak ada yang indah, dan sepertinya tidak ada tempat yang aman di sini. Mungkin benar kata penulis pesan misterius itu: tidak ada seseorang pun di sini kecuali mereka berdua.
Kak, sepertinya ini memang kesempatan kita geh untuk mempelajari dunia secara langsung. Kata Raka dengan padangannya yang terus melihat ke berbagai sudut.
Seperti biasa, Raka selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia tidak begitu peduli dengan situasi saat itu, ia juga tidak begitu peduli tentang apa yang akan menimpa mereka nanti. Yaa, di usia yang masih sangat belia rasa ingin tahu Raka mengalahkan segala ketakutan itu.
Baiklah, ayo kita perhatikan pelan-pelan dan berjanjilah untuk tidak kemana-kama sendiri!. Kata Ellena sambil tetap terus berhati-hati.
Mereka berdua berdiri pada tempat yang paling tinggi. Mereka melihat secara langsung situasi di mana bumi masih muda: tidak ada tempat nyaman, yang ada hanyalah warna kelabu kemerahan di mana-mana. Gas beracun, seperti karbon dioksida, metana, dan ammonia ada di berbagai tempat dan menyelimuti, ditambah lagi bau uap belerang yang sangat menyengat.
Terlihat sangat jelas tidak mungkin dalam situasi yang kacau balau ini ada kehidupan. Daratan tidak seperti seindah pelataran rumah mereka, sebaliknya, ia masih sangat sedikit, terpecah-pecah, kasar, dan panas.
Tidak ada dataran hijau, apalagi padang savanna, yang ada hanyalah batu hitam yang berwarna merah menyala dan sebuah retakan yang mengeluarkan hawa panas dari perut bumi.
Dari kejauhan juga terlihat, ternyata bumi muda dikelilingi oleh lautan magma dan gunung berapi aktif di mana-mana, bahkan ia meletus mungkin hampir setiap detik. Di udara pun sama saja, hujan meteorid dan asteroid menjadi pemandangan yang paling indah di situ. Mungkin, seperti kembang api di masa umat manusia modern.
Bumi menjadi semacam sasaran tembak kosmik. Setiap kali meteorid dan asteroid jatuh, ia langsung mengubah bentuk permukaan yang ada.
Dunia yang aneh. Pikir Ellena dengan penuh rasa heran.
Selain itu, bumi 4 miliar tahun lalu selalu diguyur hujan selama jutaan tahun, anehnya itu bukan hujan biasa seperti yang Ellena ketahui, melainkan hujan panas. Uap air pun terlihat mengembun membentuk samudra purba.
Mereka mencoba mencari air bersih. Berjalan pelan dan penuh kehati-hatian, namun sejauh mereka berjalan, mereka tidak menemukan air jernih dimana pun. Yang ada hanya air berwarna gelap, asam, dan penuh mineral.
Kak, kalau di sini belum ada manusia, berarti ini zaman sebelum sejarah ya?
Ternyata adiknya pun merasakan hal yang sama. Raka terlihat tidak senyaman waktu bermain di gudang tua belakang rumah, tapi tidak nampak merasa takut di raut wajahnya. Sambil tetap menggenggam erat tangan Raka, Ellena melihat, bahwa:
Keadaan atmosfer bumi sangat aneh, Ellena merasa sesak, Raka batuk, dan keduanya harus menutup hidung dengan sapu tangannya.
Apa mungkin ini karena bumi hampir tidak mengandung oksigen (O₂), sepertinya yang paling dominan adalah metana (CH₄), amonia (NH₃), karbon dioksida (CO₂), dan hidrogen sulfida (H₂S). Entahlah, Ellena tidak tahu persis bagaimana istilah yang tepat untuk menggambarkan kekacauan itu.
Sungguh mustahil jika dalam situasi seperti ini ada kehidupan. Karena Sejauh perjalanan Ellena menyusuri bumi muda, ia benar-benar tidak menemukan apapun selain kekacaun dan kekacauan: hawa panas, ledakan gunung, hantaman asteorit yang menggetarkan daratan, dan sambaran petir yang menggelegar.
Akantetapi, meskipun di mana-mana hanya ada kekacauan. Ternyata di situlahtempat bersembunyinya kehidupan pertama.
Bukan ikan.
Bukan tumbuhan.
Bukan pula makhluk yang bisa diberi nama.
Ia hanya reaksi kimia. Molekul-molekul sederhana yang saling bertemu, berpisah, lalu bertemu lagi. Tanpa niat. Tanpa tujuan. Tanpa kesadaran.
Ellena benar-benar menyaksikan secara langsung, bahwa sejarah manusia hanyalah potongan kecil dari usia bumi. Ia melihat juga bagaimana benturan-benturan keras mebentuk daratan, perubahan yang tidak bisa dipastikan, dan segala kekacauan yang kemudian menjadi keteraturan.
Rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang makin membesar dalam diri Ellena dan adiknya, membuatnya lupa pada satu hal: bagaimana dia bisa kembali lagi ke rumah. Mereka yakin ibunya sedang panic mencarinya, soalnya Ellena dan Raka sudah terlalu lama berjalan dan mengamati zaman bumi masih muda.
Kembalinya Mimpi dan Harapan
Ellena melihat arloji hadiah dari Ayahnya, untuk memastikan bahwa mereka tidak pergi terlalu lama. Namun, alangkah kagetnya mereka, ternyata Ellena telah pergi lebih dari 10 jam. Waktu yang sangat lama, di mana ia mulai terlompat di waktu masih sore.
Waduh dik, kita ternyata sudah pergi terlalu lama, ayah dan ibu pasti sangat khawatir jika mereka sampai tidak menemukan kita di tempat tidur, karena ini seharusnya waktu tidur malam kita. Tutur Ellena pada Raka dengan penuh kepanikan.
Lalu gimana kita bisa kembali ke rumah kak? Sahut Raka.
Ia mulai membuka kebali secarik surat yang Ellena bawa tadi. Namun, anehnya surat itu tulisannya tidak sama seperti yang tadi, tulisannya lebih ringkas dan singkat, dan lagi-lagi tidak menunjukkan secara jelas siapa penulis surat itu.
Ellena, apa kamu sudah berjalan-jalan dan melihat pemandangan yang sangat asing itu? Jika sudah, apakah kalian ingin kembali ke rumah? Silakan pejamkan mata dan bayangkan gudang tua belakang rumah kalian, jangan pernah sekali-kali membuka mata jika ingin selamat!
Pesan yang aneh. Tanpa pikir panjang, Ellena dan Raka duduk di atas sebuah batu besar. Sambil berpegangan tangan, mereka secara bersamaan menutup mata dan membayangkan gudang tua belakang rumah.
Seperti sebelumnya, tanpa aba-aba, tanpa cahaya layaknya pertunjukan, mereka terlempar pada tempat yang biasa mereka bermain sepulang sekolah.
Dik, ayo bangun. Apa kamu merasa ini benar-benar gudang tua belakang rumah kita? Tanya Ellena dengan diselimuti rasa tidak percaya.
Raka pun bangun dan berdiri. Raka mengangguk dan berkata, bahwa ini benar gudang tua belakang rumah. Keduanya langsung bergegas keluar dari gudang tersebut dan meletakkan kotak hitam tua dan misterius itu ke tempat semula.
Alangkah terperangahnya mereka, dimana mereka melihat bahwa waku di rumah mereka ternyata masih sore, padahal mereka telah pergi 10 jam. Tapi anehnya, waktu terasa berhenti di situ.
Sungguh aneh, ini benar-benar dunia yang seperti dongeng, apa ini sungguhan? tutur Ellena dalam hati.
Entahlah, intinya mereka lega sudah bisa kembali ke rumah dan sepertinya situasinya aman, ayah serta ibu pun sepertinya tidak cemas. Mereka kemudian berjalan meninggalkan gudang tua dengan penuh rasa penasaran sekaligus senang.
Di tengah perjalanan, Ellena bilang kepada Raka agar tidak menceritakan kejadian ini pada siapapun terutama ayah dan ibu. Ellena hanya takut ayah dan ibunya khawatir dengan keadaan kami.
Nak, ayo mandi kemudian makan, suara ibunya dari kejauhan.
Mereka bergegas mandi, yang kemudian mereka makan bersama.


🧠🧠🧠🧠🧠 membaca dan berimajinasi 😅