Darfur: Ketika Dunia Diam dan Kemanusiaan Kembali Gagal!

Never Again. Yapss sebuah kalimat yang sering kita dengar berulang-ulang setiap terjadi tragedy genosida. Akantetapi meskipun kata itu sering kita dengar, namun pada realitanya dunia seakan lupa bahwa sejarah tidak sebatas pada pelajaran saja, melainkan ia adalah luka yang sangat nyata ketika hal itu diabaikan.

Darfur, sekitar dua puluh tahun lalu menjadi sebuah simbol nyata tentang kebiadaban manusia terhadap manusia. Namun, setelah berjanji bahwa dunia tidak akan pernah dan tidak akan membiarkan tragedi semacam itu terulang lagi, pada kenyataannya dua dekade setelahnya darah kembali mengalir dan api kembali berkobar di atas tanah yang sama.

Bayangan Lama yang Tak Pernah Hilang

Kronologi awal terjadinya tragedi mengerikan itu bermula pada tahun 2003, yakni ketika pemerintahan Sudan dipegang oleh Omar al-Bashir yang pada saat itu menyerukan kampanye militer terhadap kelompok pemberontak yang menentang marginalisasi etnis non-Arab. Namun setelah niatnya berjalan, ironisnya bukan hanya sekedar oprasi militer biasa, melainkan penghapusan etnis.

Pada saat itu milisi Janjaweed yang benar-benar didukung oleh Negara menyerang beberapa desa dari suku Fur, Masalit, dan Zaghawa. Mereka melakukan hal yang sangat keji: membunuh, memperkosa, dan membakar. Akibat dari hal itu 300.000 lebih menjadi korban jiwa dan jutaan lebih orang mengungsi. Lalu dunia kemudian menyebutnya Genosida Darfur.

Selanjutnya, pada tahun 2009 ICC (Mahkamah Pidana Internasional) menetapkan tersangka terhadap aksi  kejahatan perang dan genosida, yakni al-Bashir. Dunia serasa bergembira dan lega berpikir, bahwa tragedy mengerikan tersebut sudah usai. Namun, tak lama kemudian sejarah kembali menampilkan kebiasaan buruknya; tragedi berulang di tempat yang sama dengan luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Perang Baru dengan Luka yang Sama                                       

Pada tahun 2023, perang di Sudan kembali membara, yakni antara dua kekuatan yang dahulu bekerjasama menindas rakyat, yakni Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dengan Rapid Support Forces (RSF) atau sering dikenal sebagai transformasi modern dari milisi Janjaweed yang mana kedua kekuatan tersebut telah berebut kekuasaan tepat pasca jatuhnya rezim al-Bhasir gagal. Akantetapi korban utama masih seperti dua dekade lalu, yakni bukan para jendral maupun para petinggi-petinggi di istana, melainkan rakyat sipil.

Kemudian, di Darfur Barat berdasarkan laporan dari Human Rights Watch, Amnesty International, dan badan-badan PBB. Pembantaian etnis masalit, pemerkosaan massal, pembakaran rumah, dan pengusiran besar-besaran bak neraka di bumi terjadi di kota El Geneina sekaligus yang menjadi saksi bisu kebiadaban serta kejahatan yang tersistematis; tubuh dibuang ke jalan, perempuan-perempuan diperkosa tepat di depan anak-anaknya, dan desa-desa lenyap dibakar olehnya.

Pemerintahan Amerika Serikat pada Januari 2025 secara resmi menyatakan, bahwa aksi yang dilakukan oleh RSF di Darfur sebagai sebuah kejahatan yang nyata dan memenuhi unsur genosida. Akantetapi apakah pernyataan itu masih berarti? Ibarat gema yang datang terlambat setelah suara moral yang muncul di saat mayat terkubur dan kamp-kamp pengungsian sudah penuh dan sangat sesak.

Dunia yang Sibuk serta Dunia yang Diam

Genosida terjadi bukan hanya disebabkan oleh kebencian, melainkan keheningan dunia juga menjadi alasan utama. Padaha kita mengakui bahwa kita hidup di era yang katanya menjunjung tinggi kepedulian, namun pada realitanya kita hidup dengan kesibukan diri sendiri. Kita juga hidup di era di mana tragedi di seluruh dunia bias kita lihat dalam waktu yang sangat nyata, namun nyatanya rasa empati justru tersimpan dan membeku di balik layar.

Belajar dari Kisah Inspiratif Urwah bin Zubair

Bayangkan! Ketika Ukraina di serang, dunia langsung bergerak. Ketika Gaza dibom, dunia langsung bersuara. Namun, tragisnya ketika Darfur mengalami kekejian, dunia serasa hampir tidak tergerak. Seakan terdapat hierarki penderitaan manusia; nyawa Afrika, di mata dunia global serasa masih sangat ringan. PBB mengeluarkan seruan, lalu Negara-negara besar saling berdebat, dan kemudian media hanya melirik sekejap saja lalu beralih ke berita lain yang nilai jualnya lebih tinggi. Dalam diam, genosida seolah menemukan ruang untuk tumbuh lebih leluasa.

Kegagalan yang Lebih Dalam dari Politik

Darfur bukan hanya krisis politik melainkan, ia juga arti dari sebuah kegagalan moral global. Kita memiliki system hokum internasional, namun keadilan selalu saja dating terlambat dan terlambat. Padahal kita saat ini punya teknologi-teknologi canggih yang mampu melihat penderitaan, namun kita tidak memiiki keberanian yang cukup untuk menghentikannya. Kita juga punya data, statistik, laporan satelit, dan juga resolusi, akantetapi yang kita butuhkan saat ini bukan hanya sekedar informasi, melainkan empati dan rasa kemanusian.

Melalui hal inilah paradoks dunia modern terlihat nyata, bagaimana tidak. Kita hidup di era di mana informasi mengalir sangat deras, namun sayangnya empati kering kerontang. Kita juga tahu persis apa  yang terjadi di Darfur, namun kita tidak merasa memiliki tanggung jawab atasnya. Dalam konteks ini saya teringat konsep agama data yang dikemukakan oleh Yuval Noah Harari begitu sangat relevan saat ini. Kita memuja informasi, tapi kehilangan jiwa. Kita juga punya segudang data tentang penderitaan manusia, tapi kita juga kehilangan kemampuan untuk menangis karenanya.

Suara yang Harus Didengar

Mereka yang saat ini selamat dalam tragedi Darfur bukan hanya sekedar jadi pengungsi, melainkan mereka menjadi saksi hidup yang akan menanggung trauma terhadap sejarah yang berulang dua kali. Para perempuan di kamp-kamp Chad membawa foto anak mereka yang telah hilang. Anak-anak yang lahir dan tumbuh tanpa kenangan masa damai kini akan tumbuh dalam ketakutan, mereka akan mengenal dunia sebagai tempat di mana nyawa mereka tidak terlalu dianggap penting. Dunia yang katanya beradap, nemun menatap tanpa bergerak.

Terdapat pertanyaan yang sangat sederhana; apakah kemajuan yang telah digapai umat manusia berarti apa-apa jika kita masih membiarkan manusia dibantai sebab etnis dan warna kulit? Dan apa  artinya globalisasi jika penderitaan yang dialami oleh Afrika tidak pernah sampai dan mungkin tidak akan sampai ke dalam hati kita?

Menolak Diam

Yaps.. langkah pertama untuk menolak kebiadaban ini adalah menolak diam. Mungkin kita tidak akan pernah bias menghentikan perang, namun bukan berarti kita juga menutup mata. Kita bias menulis, bersuara, menekan pemerintah, dan mengingat, karena keheningan merupakan sekutu kekuasaan yang menindas. Sejarah tetap akan mencatat siapa yang bersuara dan siapa yang memilih nyaman dalam seribu kebisuan. Dan jika nanti dunia kembali gagal menyelamatkan Darfur, maka bukan hanya Sudan yang kalah nantinya, melainkan seluruh umat manusia yang kehilangan artinya sebagai makhluk berakal dan berhati.

Darfur bukan sebatas kisah Afrika, ia merupakan peringatan universal tentang bagaimana umat manusia dengan mudahnya melupakan pelajaran sejarah. Kita boleh membangun kota yang pintar, meningkatkan kecerdasan buatan, atau menghitung bintang-bintang di galaksi, akantetapi semua itu sia-sia jika kita gagal untuk memahami arti sebuah kemanusiaan. Dan mungkin di situlah kita menemukan sebuah kenyataan yang paling menyakitkan dari abad ini, bahwa di tengah kemajuan ilmu pengetahuan, kita ternyata hidup di zaman yang kehilangan nurani.

Selama dunia memilih diam, genosida tidak akan pernah benar-benar berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *