Gadis yang Tumbuh dengan Sepi

Malam yang indah, karena bintang yang terang menyebar menemani malam, memberi warna pada malam yang gelap. Entah apa jadinya bila malam tanpa bintang, mungkin ia akan terlihat sangat biasa saja, namun aku merasa bahwa akulah malam tanpa bintang itu. Tak ada warna yang membuatku menjadi elok, hanya hitam yang menggambarkan kesuraman dan kegelapan.

Perkenalkan aku Indah, namun aku tak pernah merasa cocok dan pantas dengan namaku tersebut. Aku lahir dari keluarga yang sudah tak utuh lagi jiwanya, entah hati siapa yang mati di antara kita, ayah?  Ibu?  atau malah hatiku?  

Setiap hari kujalani hidupku sendiri. Mengurus diriku sendiri, bahkan aku juga yang mendekap sepiku sendiri, sebab sepilah yang selalu bersamaku saat semua orang pergi meninggalkanku.

Aku hanya lah seorang gadis kecil yang penuh dengan ketakutan. Aku takut semua lelaki sama bajingannya, seperti ayahku yang tak pernah bosan bermain wanita. Aku juga takut menjadi seperti ibuku yang tak pernah usai dengan masa mudanya, jiwa liarnya yang selalu hidup dan tak pernah padam membuatku takut. Aku sama rendahnya dengan ibuku.

Hidupku seperti kisah petualangan yang tak memiliki hitungan episode. Setiap hari datang dengan masalah baru, seperti musim yang tak pernah berganti bahkan tak bisa diprediksi. Saat aku mengira hari ini adalah musim semi yang memberi kehangatan, namun badai tiba-tiba menerjang, aku tak tahu musim apa yang akan datang selanjutnya.

Ketakutan dengan masalah baru sudah menjadi kebiasaan, gosip tentang ibuku yang terus kudengar di telinga tak ada henti-hentinya, berita baru dan baru ia buat kembali tak tahu harus menjawab apa dan bertanya pada siapa saat semua orang mulai menanyakan gosip itu padaku. Perempuan-perempuan penggoda milik ayahku juga selalu memperparah keadaan, ingin rasanya aku melepas telinga ini agar tak mendengarkan semua omongan orang tentang keluarga kami. Malu dan takut kuterima seorang diri, karena pria tua dan Ibu tua itu tak mau mendengar semuanya, karena mereka sedang menikmati hidupnya bahkan ia lupa bahwa ia sudah memiliki seorang putri yang mungkin tak pernah ia anggap ada, tak heran rasanya kalau aku sangat dekat dengan sepi.

Sekolah Sungguhan

Ayahku adalah lelaki yang mencintai dunianya terlalu luas, sementara rumah sendiri terasa sempit baginya, Ibu dan ayahku sangat suka bermain-main sementara putrinya sangat takut untuk bermain. Terkadang aku bosan harus menjadi penonton untuknya, aku tak pernah punya peran dalam ceritanya bahkan dialog ku tak ada dalam ceritanya aku benar-benar tak punya peran dalam cerita, peranku hanyalah menonton sambil memakan popcron bersama sepi.

Tak terasa sudah hampir 15 tahun aku bersama sepi, kini usiaku 20 tahun. Aku bukan lagi anak-anak yang mudah menangis atau tertawa saat menonton drama itu. Aku hanyalah gadis yang tumbuh sembari dirangkul sepi dan didekap oleh luka. Ia menemaniku tumbuh, ia begitu setia dengan diriku.

Saat malam tiba, di saat rumah lain sedang berkumpul keluarga: makan dan berbincang di meja makan, saat tawa dan cerita tak henti-hentinya terdengar. Hal yang hanya bisa kubayangkan terjadi di rumah kami. Tak bisa kubayangkan sebahagia apa meja makan rumah kami bila digunakan dan mendengar tawa kami bersama.

Namun tiba-tiba saja bayanganku hancur saat ku melihat kursiku di meja makan diduduki oleh orang yang tak aku kenal, terdengar tawa yang mereka suguhkan, hal yang menurutku tak pantas aku lihat dan dengar. Namun, lagi-lagi peranku hanyalah penonton. Perlahan mata ayahku melirikku “kau mau makan” ujarnya dengan tatapan dingin.

Mulutku membeku. Aku tak bisa berkata apapun. Aku pergi ke dapur hanya untuk mengambil air dan kembali ke kamarku sembari mendengarkan musik favoritku “rehat” dengan sangat kencang. Saat itulah telingaku merasa lebih baik dibanding mendengar tawa wanita dan lelaki tua itu.

Lalu terdengar suara ketukan pintu, ibu ku pulang ke rumah. Namun ia tak marah melihat ayahku, ia hanya duduk di sofa dan berbincang-bincang di telepon dengan kekasihnya, aku teriak di dalam kamarku yang kencangnya selaras dengan suara musikku:

“KELUARGA SIALANNNNNN!!! kenapa aku berada di tengah-tengah kebahagiaan mereka, ibu ku bahagia dengan kekasihnya, ayahku bahagia dengan wanita-wanita itu, lalu aku, bagaimana aku? apakah Tuhan juga tidak menganggapku ada? Kenapa? Kenapa?”.

Aku benar-benar lelah dengan semuanya, terkadang aku mencoba menjelaskan kepada temanku yang tak seberapa itu agar aku tak  benar-benar merasa sendiri. Namun aku tak punya cukup kata untuk bercerita, tak cukup air mata untuk menangis, hanya diam yang aku bisa, yang mana ini merupakan bahasa yang tak akan dipahami seluruh dunia.

Entah apa yang aku pertahankan untuk hidup?  Namun, ketika aku mati aku takut Tuhan juga tak menerimaku, lalu kemana lagi aku akan pergi?. Aku sudah muak dengan rumah yang berantakan ini aku sudah lelah menjadi sunyi di kala berisik, menjadi penonton yang tak paham akan alur cerita karena terus berubah.

Rumah yang tak pernah ku temui cinta, walau sudah kucari di sudut ruangan, di balik gorden jendela. Namun hanya debu berserakan yang aku dapati dan satu lagi: sunyi. Ia ku dapati di sudut ruangan yang gelap dan lembab. Rumah kami asing akan kata juga tawa. Sunyi selalu ku dapati.

Di sudut ruangan bangunan tua nan peok ini, orang melihat bangunan ini sangat kokoh namun aku begitu buta untuk dapat melihat bangunan ini kokoh, aku tak pernah melihat bangunan ini kokoh dari sudut manapun, terlalu banyak rayap yang memakan bangunan rumah kami yang menyebabkan rumah kami hampir rubuh. Kini aku benar-benar tak berdaya dan tak dapat melakukan apapun.

Pada akhirnya ku jenuh menjadi penonton. Ku beranikan diri untuk menjadi pemeran utama dalam hidupku sendiri. Ku siap menulis ceritaku dan membuat dialog yang indah untuk diriku sendiri dan orang lain, karena aku bosan menjadi penonton peperangan antara ego dan dendam. Ibuku membuat kesalahan pertamanya yang membuat ayahku menyimpan dendam dan menyebabkan ia membalasnya berkali-kali lipat. Ego mereka yang tinggi menyebabkan cinta yang ada kini menyerah di antara mereka, lagi pula ayahku begitu mencintai dunianya, kini mereka berdua tak ada bedanya.

Kini usiaku 20 tahun dan aku sudah mempersiapkan untuk hidup yang lebih baik. Aku tinggalkan rumah yang sudah hancur berantakan beserta dengan manusia yang sangat bahagia itu, aku berharap bisa mendapatkan kebahagiaan di tempat lain karena aku sudah bosan bermain dengan sepi. Kini aku ingin berkenalan dengan tawa dan cinta, agar aku tak menganggap dunia terlalu sempit untuk cinta dan luas untuk sunyi agar cinta dapat menegapku bukan lagi luka.

Perlahan cerita dan dialogku membaik, aku benar-benar bisa menjadi pemeran utama dalam cerita ini, aku bahkan dapat dengan mudah menemukan cinta dalam ceritaku, bahkan di balik bunga yang mekar di taman, aku dapat menemukan cinta. Kini begitu mudah aku mendapatkan cinta untuk diriku sendiri, aku tak pernah menganggap sunyi dan luka di rumah tua itu sebagai trauma karena aku hanya ingin dapat melihat cinta, memberi cinta, dan mendekat cinta.

Ibu, ayah, tunggu aku saat cintaku sudah penuh, aku akan kembali dan memberikan seluruh cintaku untuk kalian dan aku berharap cintaku bisa menumbuhkan cinta yang tertutup ego diantara kalian. Terima kasih cinta karena sudah mau sedikit berbagi untukku dan terima kasih sunyi karena sudah mau menemaniku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *