Tahun baru 2026 akan segera datang, biasanya di momen-momen seperti ini kita selalu menyambutnya dengan penuh keriangan, pesta kembang api, doa bersama, dan terkadang juga diwarnai dengan janji-janji perubahan. Namun kali ini rasanya tidak, Indonesia kali ini mendapatkan kado yang amat menyedihkan seolah kado itu sama dari tahun ke tahun: hutan menipis, laut tercemar, ruang kelas kehilangan makna belajar, pejabat yang sibuk mengamankan perutnya sendiri, dan suara-suara moral yang kian tenggelam oleh gemerlap dunia.
Jika kita menghitung mundur di setiap pergantian tahun, kita tidak pernah tidak bertanya soal- apakah negeri ini sedang bergerak maju, atau justru sebaliknya, ia mundur dan berputar-putar pada lingkaran kerusakan yang kita anggap biasa? Tahun baru harusnya menjadi momentum dari harapan besar, namun jika tanpa keberanian untuk bercermin, maka ia hanya akan menjadi pembungkus indah bagi krisis multidimensi yang terus kita wariskan.
Berjalan masuk menuju hutan, kita disuguhi banyak pemandangan. Bukan pemandangan indah! Sebaliknya, deforestasi, tambang, dan alih fungsi lahan membabat habis hutan tropis yang membantu gunung-gunung tetap kokoh dan membantu menyerap air hujan. Sebuah ironi, bahwa hutan tidak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan komoditas. Akibatnya, bencana alam meluluh lantahkan segala yang ada dari hulu ke hilir. Masyarakat menangis, menahan derita dari kebiadaban tangan-tangan kotor atas dalih pertumbuhan ekonomi, namun melupakan hal esensial yang perlu dipertahankan, yakni keberlanjutan hidup!.
Siapa yang akan mereka salahkan? Mereka pun tidak tahu. Siapa yang akan bertanggung jawab? Mereka pun tidak berani berkata banyak! Mereka hanya diberi sebuah wajengan, bahwa ini adalah takdir, ini adalah ujian, dan ini adalah pelajaran. Namun, lupa bahwa ketidak pedulian terhadap keberlangsungan ekologis, mengaburkan isyarat tentang hutan yang sudah lama merintih kesakitan.
Menyusuri lautan, kita akan disuguhi hal yang tak kalah memilukan: overfishing, pencemaran, dan reklamasi menjadi pemandangan yang kerap kali kita lihat, sekligus kita abaikan juga. Tumpukan sampah berserakan di kedalaman laut dan bibir-bibir pantai, melupakan bahwa ada triliunan nyawa yang bertahan hidup dengan bergantung padanya. Hewan-hewan endemik misalnya, apa kita pikir mereka dapat hidup dan mencari makan dengan kondisi lautan yang penuh dengan parasit buatan manusia? Belum lagi masyarakat kecil (nelayan), yang untuk menghidupkan kompor dapur mereka dengan bergantung pada hasil tangkapanya. Mereka mulai tersingkir dan terabaikan, akibat rusaknya ekosistem bawah laut.
Sekali lagi apa kita pikir mereka sedang memperkaya diri? Tidak! Mereka hanya mewujudkan harapan kecil dari keluarga sederhana yang hidup di pesisir pantai. Memang ini sudah saat nya kita menerima kenyataan pahit, bahwa laut sebagai simbol masa depan yang dikorbankan hari ini.
Mimpi yang Tak Boleh Tumbang
Kita mencoba mencari jawaban dari segala macam kerusakan itu. Siapa yang bersalah? Dan siapa yang patut bertanggung jawab? Kita menyusur ke lorong kecil yang diyakini sebagai tempat untuk meciptakan manusia-manusia yang cerdas dan beretika: sekolah. Sayangnya! Kita pun disuguhi kerusakan yang tidak kalah parah, yakni rendahnya literasi dan numerasi peserta belajarnya. Dengan segala kemajuan sains dan teknologi masa kini, ternyata sekolah masih belum mampu untuk mewujudkan misi mencerdaskan anak bangsa.
Ia masih sama usangnya: pendidikan berubah menjadi formalitas administratif, bukan lagi proses pemanusiaan. Guru-guru masih saja terbebani oleh sistem, dan akhirnya siswa pun mulai kehilangan makna belajar. Kali ini kita memang harus menelan pil pahit kembali, bahwa bangsa yang telah tega merusak alamnya adalah mereka yang juga gagal mendidik generasi mudanya!.
Kita mencoba mencari jawaban, dari orang-orang yang selalu tampil berwibawa yang penuh dengan pujian dan penghormatan: pejabat. Katanya mereka adalah manusia yang dipilih oleh rakyat, katanya juga mereka bekerja untuk rakyat, katanya lagi mereka yang gaji adalah rakyat. Namun, pada kenyataanya mereka justru mengutamakan kepentingan pribadi dan mengutamakan kekuasaan, sehingga mengabaikan kepentingan rakyat.
Pohon-pohon ditebang, laut dijual, dan tanah dikeruk atas dasar keberlangsungan pembangunan. Negara kini dikelola layaknya perusahaan, korupsi di mana-mana, bahkan di berbagai sektor. Sedangkan rakyat, yaa. Mereka masih sama seperti biasanya, sengsara, menderita, dan terbebani banyak hal. Entahlah, lagi-lagi kita memang harus menerima kenyataan pahit, bahwa kerusakan alam dan pendidikan tidak lah netral, melainkan ia lahir dari keputusan politik.
Kita mencoba lagi mencari jawaban atas semua itu, namun sepertinya titik terang masih jauh dari angan-angan. Kita mencoba berkunjung ke orang yang katanya mewarisi takhta kenabian (ulama). Katanya mereka amanah, katanya juga mereka bijaksana, dan katanya lagi mereka paling mengerti soal moral-spiritual. Namun kita juga sepertinya akan kembali menerima kenyataan pahit. Ulama yang idealnya penjaga nilai dan nurani bangsa, kini mulai terbuai dengan gemerlap duniawi. Mereka lebih dekat dengan kekuasaan, bahkan ikut andil dalam hal perusakan lingkunga dan bahkan korupsi.
Katanya demi kemaslahatan umat, namun kemaslahatan yang mana yang mereka maksud? Sepenting apa sampai mereka rela mengorbankan keberlangsungan ekologis? Entahlah pada kenyataannya agama kini mulai kehilangan fungsi profetiknya, yakni menegur yang salah dan membela yang lemah. Dan kita juga harus menerima kenyataan pahit, bahwa seseorang yang mewarisi takhlta kenabian pun tak luput dari kerakusan dan ketamakan.
Pada akhirnya kerusakan multidimensi ini menghantarkan kita pada satu pertanyaan. Kemana lagi kita akan berlindung? Kita tidak punya lagi kompas moral, kita juga kehilangan perwakilan yang akan membela kita, dan kita juga telah kehilangan harapan untuk generasi muda agar tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya cerdas, namun juga beretika. Sepertinya, kita memang perlu mengakui bahwa kita adalah kematian, seperti kata Oppenheimer.
Kita sudah terlalu pintar mengambil teori nya Tan Malaka (Logika Mistika) Atau teori nya Edward B. Tylor (Animise). Kita semua tahu bahwa logika mistika itu menyesatkan dan kita juga sudah keluar dari keterkungkungan itu, namun anugerah tersebut sepertinya menjadi bom waktu bagi kita. Mungkin memang lebih baik kita kembali percaya pada paranormal atau dukun, bahwa di hutan dan di lautan terdapat berbagai macam makhluk tak kasat mata, supaya kita tahu merekalah penjaga ekologis yang paling jujur.
Selamat Menyongsong Tahun Baru 2026

