Kala itu hujan turun perlahan, saat semua umat muslim sedang bersiap diri untuk pergi salat Jumat di masjid seberang jalan. Masjid yang selalu menjadi tempat pulang paling nyaman dan tenang dari lelahnya bekerja dan bisingnya jalan.
Begitupun dengan Khalid, pemuda yang hidupnya banyak dihabiskan di dalam masjid, pemuda yang tumbuh dengan cinta yang besar untuk Tuhannya, sejak kecil ia selalu menjaga imannya dan cintanya hanya untuk Tuhannya.
Jumat itu seperti biasanya suara Khalid bergema dari atas mimbar masjid tua di seberang jalan, ucapannya lantang ayat-ayat suci mengalir dari lisannya menenangkan jamaah yang haus akan nasihat, banyak orang tersadar akan khutbah yang disampaikan Khalid kalimat dan dalil-dalil yang tegas disampaikannya secara halus.
Khalid tahu betul bagaimana cara merayu jamaahnya, setiap kalimat yang ia sampaikan terdengar begitu ajaib bahkan sampai menembus hati para jamaahnya sehingga banyak orang yang mengenal Khalid sebagai pemuda penjaga iman pemimpin khotbah, yang hidupnya nyaris tak tersentuh dunia.
Khotbah yang ia sampaikan salat Jumat pun telah berakhir, satu persatu semua orang pergi meninggalkan masjid begitupun dengan khalid ia ingat bahwa ia harus menghadiri forum dialog antar agama yang saat itu jaraknya tidak terlalu jauh dari masjid, enam agama bertemu dalam forum tersebut.
Khalid yang kala itu menjadi perwakilan dari pemuda Muslim, ia benar-benar menggambarkan muslim sejati, pembawaannya yang tenang, pandangannya yang terjaga, dan lisannya bijak dalam bertutur.
Pada forum dialog antar agama itu mereka membahas tentang pemahaman, penghargaan, dan kerjasama antar umat beragama, yang bertujuan untuk membangun kerukunan, mengatasi prasangka, dan mengembangkan toleransi.
Pada saat pembahasan tersebut, terdengar ada suatu suara yang sangat lembut dalam tutur dan dalam pikirannya, gadis pembawa kitab Injil yang duduk dengan anggun di seberang meja Khalid membuat dada Khalid mendadak berdetak dengan kencang bahkan ia sempat melihat wajahnya Karena penasaran, hal yang tak pernah kali lakukan dengan perempuan manapun.
Nama perempuan tersebut adalah Maria, yang kebetulan pada saat itu dia juga sedang meneliti tentang kitab Al qur’an, jadi dalam forum tersebut dia banyak bertanya kepada Khalid untuk tujuan penelitiannya, dari situ diskusi mereka terjalin sangat hangat.
Penjelasan yang disampaikan Khalid benar-benar mampu membuat Maria kagum akan penyampaiannya, hari sudah mulai sore forum tersebut sudah berakhir, orang-orang saling mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan begitupun dengan Khalid dan Maria setelah pulang dari forum tersebut kahlid yang bersiap untuk salat magrib merasa kan ada hal aneh dalam dirinya, ia benar-benar merasa bahagia bahkan sangat bahagia, ia berpikir mungkin karena acara hari ini berjalan dengan lancar dan bahagia karena bertemu dengan teman-teman baru.
Hari berlalu Khalid melakukan aktivitasnya di masjid seperti biasanya namun, di hari Senin pagi tiba-tiba saja hujan turun membasahi lantaran masjid dan menyejukkan suasana masjid, dari gerbang masjid terlihat seorang perempuan berbaju hitam lari ingin meneduh ke arah masjid, seperti biasanya Khalid selalu menyapa ramah orang yang datang ke masjid namun orang yang ada di depan matanya kini adalah orang yang pernah ia temui, mendadak jantung Khalid berdetak sangat cepat dan kencang sapa lirih dari wanita tersebut
“Khalid… Saya tidak menyangka bisa bertemu kembali”
“iyaa saya juga tidak menyangka kita bertemu kembali diluar fotum, duduklah dulu di sini Maria sembari menunggu hujan reda, sekarang sedang musim hujan mengapa kau tidak membawa payung Maria? dan kemana kau ingin pergi?” (tanya Khalid) Maria menjawab
“yaa aku lupa membawa payungku, dan aku baru saja pergi dari masjid ke masjid untuk tugas penelitianku namun semua imam masjid enggan untuk saya tanya tanya tentang kitab Alquran, mungkin karena imam-imam masjid yang saya temui dari tadi sudah berusia lanjut jadi sudah tidak mau banyak berdebat atau ditanya-tanya. Ohh iyaa bagaimana kalau kau saja yang saya tanya-tanya tentang Alquran, kau kan juga pandai dalam hal itu apakah boleh Khalid?” (tanya Maria)
sahut Khalid
“tentu saja boleh Maria, kau boleh menanyakan apapun tentang agama Islam dan kitab Alquran kepadaku, aku akan membantumu menjawab dengan sebisaku.”
‘Baiklah kalau begitu, besok aku akan kembali lagi ke sini untuk menemuimu dan memulai penelitianku, sekarang hujannya sudah reda aku izin pulang terlebih dahulu Khalid”.
Mimpi yang Aneh
Khalid menjawab “iya Maria hati-hati di jalan yaa”. keesokan harinya Maria datang lagi ke masjid tua seberang jalan untuk menemui Khalid, sesampainya Maria di masjid Maria mendapati Khalid sedang membaca alquran di dalam masjid dengan suara lembut dan indah, Maria mendengarkannya sampai selesai ,setelah Khalid selesai membaca Alquran ia terkejut mendapati Maria yang sudah menunggunya di depan pintu masjid, lalu kemudian Khalid mendatangi Maria dan bertanya.
“apakah kamu menungguku sudah lama Maria?”.
“tidak” ujar Maria.
Dia benar-benar tidak sadar, bahwa ia telah menunggu Khalid selama setengah jam lamanya, iya benar-benar terpukau dengan keindahan suara Khalid sampai waktu berjalan sangat cepat menurutnya. Kemudian setelah mereka selesai bertanya kabar Maria langsung menanyakan tentang kitab Alquran kepada Khalid untuk tugas penelitiannya, ia bertanya .
“mengapa Al quran disebut sebagai kitab penyempurna atas kitab-kitab sebelumnya? dan bila kita diciptakan oleh satu Tuhan mengapa kita kini menyembah Tuhan yang berbeda?”
Pertanyaan yang sederhana tapi menjawabnya butuh kehati-hatian yang luar biasa.
“Baik karena kau menanyakan hal tersebut kepada seorang muslim, maka aku akan menjawab pertanyaanmu dari kacamata Islam. Bagi kami Alquran sebagai wahyu terakhir yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad sebagai penyempurna atas kitab-kitab sebelumnya, Alquran juga membenarkan inti ajaran-ajaran tauhid yang juga dibawa oleh kitab-kitab sebelumnya, yaitu menyembah Tuhan Yang esa namun, Alquran juga meluruskan penyimpangan dalam pemahaman dan praktek umat sebelumnya seperti dalam Alquran surat al-maidah ayat 48
“Dan kami telah menurunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan sebagai penjaga atasnya”
dan kami percaya bahwa kitab-kitab sebelumnya, diturunkan untuk umat dan masa tertentu sedangkan Alquran diturunkan untuk seluruh manusia hingga akhir zaman”.
Khalid menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Maria satu persatu dengan jawaban yang bijak dan tegas, tetapi dengan tutur bahasa yang santun dan lembut yang membuat Maria mudah memahami apa yang disampaikan oleh Khalid, dan membuatnya semakin kagum dengan Khalid dan dari situlah diskusi berubah menjadi percakapan, percakapan berubah menjadi perhatian, dan perhatian tanpa mereka sadari berubah menjadi rasa, dan Khalid sering terjaga di sepertiga malamnya memanjangkan sudutnya dan menadahkan tangannya namun, bukan karena dunia melainkan karena ketakutannya, ia takut jika kini hatinya mulai condong pada seorang gadis yang cara berdoanya tak sama dengannya, menadahnya tanganku tak akan mampu bersanding dengan genggaman tangannya.
Ia juga takut hal itu menjauhkannya dari amanah mimbar, ia tahu seorang pemimpin umat tak hanya dituntut menjaga lisannya, tetapi juga hatinya. Maria pun bergelut dengan batinya, ia yang juga yang selalu membimbing para jamaahnya dan memberikan teladan iman. Maria juga tak ingin menjadi alasan goyahnya keyakinan seorang yang setiap pekannya merayu manusia pada Tuhannya. Maria dan Khalid mereka semua bergelut dengan pikiran, batin, hati juga imannya masing-masing.
Hari itu Mereka bertemu untuk terakhir kalinya juga karena tugas penelitian Maria telah usai, tepat di halaman masjid selepas Ashar, Maria mengatakan kepada Khalid
“aku mencintaimu tapi aku tak ingin menjadi ujian yang memberatkan langkah ibadahmu”.
Khalid menunduk, air matanya pun menetes di jubah putihnya
“aku juga mencintaimu Maria, namun cintaku kepada Allah harus tetap di atas segalanya”.
Kemudian mereka benar-benar berpisah. keesokan harinya, Khalid kembali ke mimbarnya dengan suara yang bergetar karena ia tahu makna pengorbanan. Maria juga membawa pelajaran paling sunyi dalam hidupnya, bahwa cinta tak harus dimiliki sebagian hanya ditakdirkan untuk menguatkan iman.
Dalam khotbah Jumat berikutnya Khalid berucap dengan tegas di atas mimbar masjid
“Alquran surat Al kafirun ayat 6, mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan adalah garis tegas yang tidak boleh dilanggar demi perasaan. Cinta tidak boleh mengalahkan iman dan toleransi tidak boleh merusak akidah Islam, juga memberikan batasan syariat agar cinta tidak menjerumuskan pada pengorbanan iman”.
Pada akhirnya tidak semua cinta beda agama berakhir seindah kisah Komang dilayar cerita ada cerita yang harus berhenti, bukan karena hilang rasa melainkan karena iman yang tak bisa disatukan, maka dengan hati yang lapang dan keyakinan yang utuh Khalid memilih jalan Alquran.
“untukmu agamamu dan untukku agamaku”
(Alquran surat Al kafirun ayat 6)
Maria memilih jalan
“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya
(2 Korintus 6 :14)

