LAUTAN PENGETAHUAN

Pagi yang cerah, dibarengi dengan angin pagi yang segar. Ellena berangkat ke sekolah seperti biasa dengan Raka, jalan yang mereka lalui kali ini sedikit ramai masyarakat berlalu lalang, kali ini masyarakat sedang mengadakan acara sedekah bumi, yakni sebuah cara yang umum dilakukan atas perwujudan rasa syukur.

Biasanya Ellena berhenti sejenak ketika mendapati acara sedekah bumi itu, karena acara tersebut merupakan acara yang sakral yang serat akan makna-makna filosofis. Namun kali ini tidak, Ellena sudah berencana akan berangkat ke sekolah lebih cepat, dengan langsung menuju ke perpustakaan sekolah guna mencari tahu tentang teka-teki yang tengah ingin Ellena pecahkan.

Ellena sampai di gerbang sekolah, ia lalu menuju tempat untuk memarkirkan sepedanya. Dengan langkah yang cukup tergeda-gesa, Ellena lalu langsung menuju ke perpustakaan sekolah. Perpustakaan itu seperti biasa; hening dan sepi, seolah menjadi simbol agar pertanyaan-pertanyaan besar tidak terdengar terlalu keras.

Cahaya matahari pagi masuk dan jatuh pada rak-rak buku yang tinggi. Buku-buku berjajar rapi, ada yang tua, ada juga yang baru, tidak ada yang berbeda semuanya sama, yakni sama-sama tebal.

Tumben berangkat pagi banget Ell, Tanya seorang guru piket yang duduk di pojok ruangan perpustakaan. Apa kali ini ada PR yang belum kami kerjakan di rumah?

Nggak pak. Jawab Ellena sembari melanjutkan pencariannya.

Ellena, melihat semua buku-buku tebal yang berjajar rapi. Dia mengambil satu buku, lalu mengambil satu buku lagi, dan mengambil satu buku lagi, sampai lengannya penuh.

Ellena duduk bersila tepat di depan rak-rak buku tersebut. Sembari membaca halaman demi halaman.

Mebuka halaman satu ke satunya lagi

Mengulangi halaman satu ke halaman satunya lagi.

Ellena banyak mendapati pembahasan-pembahasan yang paling jarang disentuh oleh kebanyakan siswa. Judu-judulnya pun terkadang membuat Ellena mengerutkan alisnya sedikit. Dia membaca tentang, Kosmologi Modern, Asal-Ususl Alam Semesta, Fisika Teoretis.

MIMPI YANG ANEH

Ia mendapati banyak persamaan, grafik, dan istilah-istilah seperti bahasa yang jarang dipakai manusia pada umumnya. Kata-kata seperti inflasi, singularitas, radiasi latar kosmik berjajar rapi, tanpa memikirkan apakah pembacanya sudah siap untuk menerimanya atau tidak. Ellena terus membaca dengan seksama, tak jarang ia juga mengulanginya, namun hasilnya sama saja; tidak masuk di kepala, bahkan kabur.

Itu bukan karena Ellena kurang berusaha, justru karena terlalu banyak pengetahuan yang ingin Ellena ketahui sekaligus.

Tak berselang lama, buku-buku itu menutup dirinya sendiri. Ellena membaca kembali judul-judul buku tersebut dan menghela napas, ia berpikir seolah dia sedang berada di tengah lautan, namun dia tidak tahu cara berenang.

Ellena menengok laki-laki setengah tua, yang duduk di pojok ruangan perpustakaan, yakni guru piket, dia juga adalah guru fisika di kelasnya. Dengan kaca mata dan dengan secangkir kopi, dia sedang membaca buku dengan serius.

Ellena mendekat

Permisi pak, sapa Ellena dengan sopan karena takut mengganggu waktunya.

Iya Ellena, ada apa?  Guru itu menoleh dan melemparkan senyuman tipis.

Ellena menyodorkan satu buku di meja tempat guru tersebut membaca. Saya sedang membaca buku ini pak, tapi saya tidak mengerti, sebenarnya alam semesta itu bermula dari apa sih?

Guru itu tidak langsung menjawab, ia tidak juga  marah, justru ia menatap Ellena dengan penuh keheranaan, seolah ia sedang dihadapkan dengan sebuah pertanyaan yang melompat terlalu jauh dari jadwalnya.

Itu pertanyaan besar Ell, katanya, dan jujur saja.. itu tidak mudah.

Ellena menganggukkan kepalanya, saya tahu pak, tapi saya ingin mengerti soal ini.

Guru itu kemudian meletakkan buku yang sedang ia baca, sembari menyandarkan punggungnya ke kursi, guru itu nampak sedang berpikir dan  menimbang tentang sesuatu yang tidak tertulis di dalam buku yang tengah ia baca.

Ell, katanya dengan suara pelan, mengenai topik itu biasanya akan di bahas nanti, di SMA kita fokus ke dasar-dasarnya dulu.. terkait kosmologi, nanti akan kamu temui di bangku perkuliahan.

Maaf pak, tapi kenapa harus menunggu?, Tanya Ellena yang  nyaris tanpa suara, kalau saya ingin paham nya sekarang gimana dong pak?.

Guru itu terdiam, ia membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali, seolah ia sedang memilih dan menimbang sebuah jawaban antara yang jujur dan yang aman.

Begini Ell, bukan maksud melarangmu untuk bertanya, katanya, namun jujur saja itu hal yang rumit, karena banyak konsep matematika, yang perlu kamu pahami terlebih dahulu. Jika kamu memaksa, maka nanti kamu akan bingung sendiri Ell.

Ellena kembali menganggukkan kepalanya, bukan karena paham, tapi karena dia penasaran dan terdapat pertanyaan yang lebih dalam di dalam dirinya, yakni mengapa keingin tahuannya seolah harus menunggu giliran?

Jadi tidak ada jalan lain dong pak? Tanya Ellena dengan nada yang agak rikuh.

Guru itu menghela napas panjang, Mungkin ada Ell,, jawabnya, mungkin bukan di kurikulum kita saat ini.

Ellena mengucapkan terimakasih. Ia pun lalu mengembalikan kembali buku-buku tersebut ke rak yang sudah disediakan, menaruhnya satu persatu, seolah ia sedang menggenggam sesuatu yang belum diizinkan untuk Ellena miliki.

Dia keluar dari perpustakaan, seperti biasa ia masih belum menemukan sebuah jawaban, ia pun tidak kecewa, apalagi marah. Melainkan, dia sedang berpikir mengenai; mengapa jawaban-jawaban besar selalu tersimpan rapat, dan seolah tidak mudah untuk didapatkan meskipun oleh orang yang ingin mengetahui.

Ellena kembali melanjutkan aktivitas sekolahnya, seperti biasa suasana hambar dan membosankan. Seperti biasa juga ia tidak terlalu tertarik, apalagi antusias, yang paling ia sukai di sekolah adalah mendengar suara bel pulang ber bunyi.

Kemana lagi ia mencari jawaban, merupakan sebuah pertanyaan besar yang saat ini paling mengganggunya. Sempat dia juga berpikir, untuk mencari jawaban dari kotak hitam tua yang kemarin ia temukan di gudang belakang rumah, namun Ellena juga bingung untuk mengaksesnya, karena tidak ada tombol-tombol apapun, yang menunjukan tombol pengaktifan.

Suara bel berbunyi, sebagai tanda kegiatan sekolah telah usai. Ellena keluar ruangan dan bergegas untuk pulang ke rumah.

Sampai di rumah, Ellena menuju kamar dan mengganti pakain sekolahnya. Tak selang berapa lama, Raka memanggilnya. Seperti biasa, sepulang sekolah Ellena selalu bermain dengan Raka.

Kak, ayo kita ke gudang dan bermain bersama kotak hitam yang kemarin, ajak Raka dengan antusias.

Ellena dan Raka bergegas menuju gudang belakang rumah dan mengambil kotak hitam itu. Ellena pun duduk di depan teras gudang belakang rumah sambil memegang kotak hitam kemarin dan Raka berbaring di sampingnya sambil memegang tutup botol.

Terik matahari yang jatuh di halaman belakang rumah dengan suara kambing-kambing milik ayah Ellena menambah suasana asri pada waktu itu. Ellena terus terbayang soal mimpinya tadi malam, sambil membuka kotak hitam itu berkali-kali dan menutupnya juga berkali-kali, Ellena berharap agar kotak hitam itu membawanya entah kemana.

Namun kali ini berbeda, beberapa kali Ellena mencoba, kotak hitam tua itu tidak kunjung merespon.

Hmmm, memang kotak yang aneh, kata Ellena dengan penuh harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *