Sekolah dan Ketakutan

Kenapa setiap kali salah, aku merasah bodoh?

Tidak semua anak takut pada kegelapan, tapi hampir semua anak takut dengan sekolah. Yaa, kalian tidak salah baca. Seorang anak yang belum menginjak dewasa ditunjuk untuk maju ke depan, ia disuruh menjelaskan soal yang tertulis di papan tulis “Apa faktor budi pekerti yang luhur? ” sebuah soal yang terdengar mudah. Namun, anak tersebut hanya diam sembari menatap lantai ruangan. Ia tidak berani menjawab bukan karena tidak tahu, tetapi karena ia takut akan dimarahi, ditertawakan, takut disalahkan, dan takut mendapatkan nilai jelek. Ketakutan itu muncul akibat penilaian terkait jawaban yang benar adalah jawaban yang sama dengan buku teks.

Di ruangan yang lain, guru sibuk menjelaskan materi dengan segala macam metode pembelajaran. Tujuannya agar kegiatan belajar mengajar terlihat lebih aktif, namun di sisi lain anak yang sibuk dengan buku gambar dan pensil warnanya selalu dimarahi, gambarnya dianggap gangguan, dan tak jarang guru menyita alat-alat gambar anak itu sambil marah-marah dengan penggaris panjang di lengannya. Semua anak terdiam. Semua anak menatap kedepan dengan penuh ketakutan. Ia menganggap bahwa belajar yang efektif semestinya seperti ini: datang, duduk, lalu diam. Ia menganggap itulah jalan yang terbaik. Padahal, ia tidak sedang mengajar, melainkan ia sedang menyemai benih-benih ketakutan sebelum mengajarkan anak untuk membaca.

Ketakutan yang ditanam sejak dini atas dalih ketertiban akan menggiring anak pada lembah yang lebih menakutkan, yakni ketidak mampuan anak untuk berpikir dan memecahkan masalah. Kata disiplin sering kali diartikan sebagai sebuah ketaatan, ia dibungkus dengan segalam macam aturan, tata tertib, dan sopan santun padahal esensi di dalam nya mengandung ancaman nilai, hukuman simbolik, dan rasa malu di depan kelas. Yang diam dianggap baik dan yang selalu bertanya dianggap tidak sopan. Kali ini sekolah mulai kabur dari perannya untuk mendidik kesadaran ke melatih kepatuhan.

Disiplin adalah kata kerja, ia melibatkan asimilasi organik dan kesadaran diri dari dalam. Ia tidak bisa dilakukan tanpa rasa kesadaran, apalagi tekanan. Disiplin yang lahir dari tekanan bukanlah kedisiplinan sejati, melainkan ketakutan akan sesuatu otoritas yang lebih besar darinya. Coba anda bayangkan! Ketika seorang anak yang selalu datang telat ke sekolah, lalu anda memarahinya tak jarang anda juga menghukumnya, kemudian mereka datang tepat waktu. Ini memang terkesan baik, namun yang menjadi persoalan apakah mereka melakukan itu atas dasar kesadar atau atas dasar rasa takut? Dan jika kita mau bertanya lebih jauh, apa mereka melakukan semua itu hanya saat ia di sekolah atau di luar lingkungan sekolah juga? Mari renungkan!

Gadis yang Tumbuh dengan Sepi

Terkadang kita sebagai orang dewasa terlalu memaksakan diri untuk menanamkan kepala orang dewasa pada anak. Kita juga terkadang menganggap bahwa anak-anak berhenti bertanya atau tidak menampakkan motivasi belajarnya itu adalah anak yang tertinggal. Padahal yang ia rasakan adalah ketika ia bertanya ia sama saja melawan dan ketika ia berbeda dengan teman-temannya ia dianggap aneh. Saya tidak sedang menyalahkan guru, melainkan saya sedang mengajak anda berpikir kembali dan mempertanyakan kembali tentang fungsi dan tugas guru, apakah guru adalah sosok yang menjaga kebenaran? Dan apakah guru adalah satu-satunya sosok yang memiliki segudang jawaban? Ketika guru menganggap bahwa ia adalah sosok yang memegang kendali penuh atas perjalanan belajar siswa, maka siswa sedang belajar satu hal yang menakutkan, yakni aman itu berarti diam.

Ketakutan yang sudah ditanamkan sejak dini terus berlanjut sampai ia dewasa dan seiring berjalannya waktu ia menilai, bahwa belajar perlu mengafal dengan cepat, bahwa jawaban harus seragam, dan bahwa belajar itu melibatkan kepatuhan massal. Padahal sejatinya dari menumbuhkan pemahaman adalah rasa aman dan menumbuhkan pemikiran kritis butuh keberanian sejak dini. Tak jarang anak yang terbiasa belajar di balik bayang-bayang ketakutan ketika ia menjejaki bangku kuliah ia tidak mampu memcahkan masalah-masalah teknis. Jangankan masalah itu wong presentasi saja full baca. Mengapa demikian? Karena ia sudah terlalu terbiasa dengan pembelajaran model hafalan dengan tekanan dari luar. Kalau dipikir memang membingungkan di satu sisi sekolah ingin anak pintar, namun di sisi lain sekolah juga yang mematikan keberanian berpikir.

Namun, keadaan ini tidak sepenuhnya salah guru-guru di sekolah. Saya sangat paham bahwa guru juga manusia dan saya juga sangat sadar bahwa guru juga hidup dalam ketakutan. Takut dengan apa? Takut dengan target kurikulum. Takut dengan penilaian atasan. Takut dengan beban administrasi. Takut dengan status pekerjaan. Lebih memilukan lagi guru juga takut dipotong upah mengajarnya. Haduuuh sudah eggak seberapa dipotong pula. Keadaan ini lah yang kemudian menciptakan belenggu dan menciptakan kesulitan guru untuk menciptakan kelas yang aman dan keadaan ini pula lah yang kemudian menularkan ketakutan selanjutnya, yakni takut namanya dahapus dari DAPODIK! Memang ada ya? Pasti ada karena ketakutan itu selalu mengalir dari atas ke bawah.

Sekolah. Bagi saya adalah tempat yang semestinya membebaskan, ia tidak semestinya untuk menyeragamkan anak, ia pula tidak semestinya mengajarkan ketakutan pada anak. Sekolah yang aman adalah sekolah yang selalu memberi ruang salah, selalu menghargai proses, dan tidak mempermalukan anak hanya soal nila ulangan harian yang jelek. Belajar sejati idealnya terjadi ketika belajar atas dasar kesadaran, ketika anak tidak lagi takut gagal, dan guru tidak lagi takut dinilai.

Alat utama dalam pendidikan adalah kepercayaan. Percaya bahwa anak itu makhluk unik. Percaya bahwa anak itu tidak tumbuh dengan jalur yang sama. Dan percaya bahwa masing-masing anak memiliki kecenderungannya masing-masing. Ketertiban tanpa sebuah kesadaran hanya akan menciptakan ilusi sementara, ia tidak permanen. Ia hanya akan berlajan ketika hal menakutkan itu ada di depan mata, ketika ia sudah tidak nampak, maka ia juga akan hilang.

Sebagai sebuah renungan untuk kita orang dewasa yang terlalu lama diam:

Jika sekolah masih mengajarkan takut, jangan heran jika yang lahir bukan manusia merdeka, melainkan menusia yang pandai menyembunyikan suara hatinya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *