Sekolah Penyumbang Pengangguran Terbesar: Membedah Janji Manis Sekolah

Suroyaproject.com-Pada suatu hari sempat saya didatangi rekan lama, dulu sempat satu kelas dengan dia, yakni pada saat saya menempuh pendidikan SMP. Dia datang sambil bercerita tentang nasibnya yang tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, sambil menyeruput kopi dia meminta info loker (Lowongan Kerja) kepada saya.

Saya hanya menanggapinya dengan kata ringan Loh ijazahmu kan SMK jurusan TKR kan? Setelah saya berkata demikian, dia pun mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak benar-benar menguasai tentang keilmuan yang disematkan untuknya sebagai lulusan TKR (Teknik Kendaraan Ringan).

Saya semakin bingung, kenapa lulusan-lulusan sekolah dengan jurusan tertentu seakan susah sekali mencari pekerjaan. Padahal pekerjaan ataupun peluang-peluang pekerjaan itu banyak sekali. Namun, entah mengapa mereka seakan kehilangan jiwanya, mereka kehilangan kreativitasnya, serta kehilangan jati dirinya sebagai manusia yang dinobatkan sebagai makhluk paling sempurna diantara ciptaan-ciptaannya.

Rupanya lembaga yang selalu mengklaim bahwa dirinya adalah satu-satunya lembaga pendidikan dan yang selalu mengklaim bahwa jika ingin sukses, maka sekolahlah, ternyata benar-benar belum bisa menjawab keinginan masyarakat. Lembaga sekolah dengan embel-embel jurusan tertentu atau dengan embel-embel keunggulan tertentu, tak ubahnya hanya sebuah janji manis yang tidak bisa mereka tepati. Bauktinya, masih banyak sekali lulusan-lulusan sekolah dengan jurusan tertentu yang bekerja tidak sesuai dengan apa yang sudah ditawarkan oleh sekolah. Mirisnya lagi, lulusan-lulusannya juga tidak kalah banyak yang lebih memilih untuk mengadu nasib pada nomor-nomor bodoh (Togel).

Ketika saya coba menyuarakan ini ataupun ada orang lain yang mengatakan, bahwa sekolah itu tak ubahnya hanyalah scam belaka, banyak juga yang menyela, bahwa anda bisa berbicara dan berlogika demikian bukankah itu dari sekolah, katanya. Oh, jika begitu tidak perlulah sekolah membuat embel-embel dengan jurusan tertentu. Tapi isilah kegiatan sekolah dengan belajar yang lebih menekankan akan kesadaran lingkungan dan social yang kian hari kian memprihatinkan ini. Apakah kira-kira mereka akan mengiyakan? Tentu tidak!

Ia dan Luka

Dapat dikatakan, mereka menggunakan iklan dengan embel-embel prestasi nasional maupun internasional hanya untuk menjaring siswa sebanyak-banyaknya dengan keahlian-keahlian palsu, karena semakin banyak siswa, maka semakin besar pula cuan yang akan mereka dapatkan. Jika meminjam Istilah Roeam Topatimasang sih sekolah seperti sebuah perusahaan raksasa.

Jika pun mereka benar-benar ahli mungkin endingnya tetap sama, mereka akan menjadi manusia cerdas yang bisanya hanya menindas, merusak lingkungan, dan memanfaatkan kebodohan orang lain. Selanjutnya, lebih dari 90% lulusan-lulusannya menjadi pengangguran. Padahal mereka adalah masyarakat ekonomi kelas bawah, sekolah pun mereka menyambi bekerja untuk membiayai sekolah, namun entah mengapa setelah mereka lulus justru bingung dengan pekerjaan.

Percaya atau tidak percaya, mereka yang sudah menjadi alumni sekolah ataupun perguruan tinggi sekali pun, mereka selalu terobsesi dengan pekerjaan-pekerjaan yang notabene berdasi atau paling enggak bekerja di ruangan yang ber AC. Ah malang sekali nasib pekerjaan yang menjadi tulang punggung Negara (non-formal). hal ini disebabkan karena mereka memiliki ijazah, yang dulu sebelum mereka masuk sekolah pernah mendengar perkataan:

Mau jadi apa kamu nak jika tidak sekolah, sekarang tanpa ijazah nyari pekerjaan itu susah! Sekolahlah di tempat kami, maka kamu akan dapat ijazah yang pasti kamu akan menjadi orang sukses.

Percaya tidak? Kalau tidak percaya lihat saja baner-baner yang terpampang menjelang tahun ajaran baru! Dan apa akhirnya? Mereka berlomba-lomba untuk masuk sekolah demi kesuksesan yang lagi-lagi katanya akan menghampirinya. Namun, setelah lulus kesuksesan yang mereka obsesikan ternyata tak kunjung tiba. Katanya lagi masih proses, lama kelamaan mereka kembali lagi ke habitatnya: Jika anak petani, maka jadi petani. Jika kuli akan jadi kuli. Jika pedagang akan jadi pedagang dan seterusnya. Jika pada akhirnya demikian, lantas mengapa tidak mulai saja sejak awal, ketimbang harus masuk sekolah dan mengeluarkan uang banyak.

Tapi yaa.. seperti biasa, sekolah adalah lembaga yang bersih jauh dari kesalahan. Mereka kemudian mengeluarkan sebuah pembelaan dengan kata yang lebih filosofis. Katanya itu faktor hereditas, namun secara kontekstual mereka lari dari faktor hereditas yang mereka jadikan sebagai kambing hitam itu. Bingung kak? Tanya saja jelasnya pada Pak Menteri.

Saya tidak sedang mencoba untuk merendahkan profesi-profesi yang sudah saya sebutkan di atas, saya hanya memberikan sebuah gambaran bagaimana usangnya pendidikan kita dan bagaimana ketidak singkronan pendidikan kita dengan realitas kehidupan. Mereka mencoba untuk menyeragamkan kompetensi setiap individu dan menafikan, bahwa manusia itu terlahir dengan jalur kesuksesan yang berbeda-beda. Jika pun harus menjadi tukang sapu jalan, petani, tukang, penjual, maka jadilah tukang sapu jalan, petani, tukang, penjual yang professional dan penuh kebahagiaan tanpa rasa penyesalan dari janji manis yang tak didapatkan.

Sekolah seharusnya menjadi gerbang untuk membuka ataupun menumbuhkan sikap kreatif dan inovatif pada setiap siswanya, bukan malah mencetaknya agar menjadi lulusan yang sesuai dengan keinginan yayasan. Aneh memang, terkadang saya juga bingung apa sekolah itu tidak tahu atau memang tidak mau tahu, bahwa ternyata mereka ini lupa dengan akarnya.

Dahulu sekolahan dijadikan sebagai tempat untuk meluangkan waktu, namun kini dijadikan sebuah tempat yang benar-benar wajib untuk didatangi. Mereka benar-benar menafikan, bahwa alam, lingkungan sekitar, maupun keadaan sekitar bisa dijadikan sebagai tempat untuk belajar. Jadi, belajar bukan memulu datang, duduk, dan diam di sebuah ruangan yang membosankan.

Sekali lagi, sekolah seharusnya menjadi sarana untuk menggali dan mengembangkan potensi diri dari masing-masing peserta didik. Sekolah juga harus menjadi tempat untuk menanam sikap kreatif, kritis, dan inovatif. Bukan malah menjadi penyumbang pengangguran. Aaduh capek deh. Penyeragaman kecerdasan dan janji manis tentang kesuksesan harus benar-benar dihempaskan jauh-jauh dari sekolah. Toh, sejak dulu sampai sekarang pengangguran pun tetap merajalela mesikpun sudah ada aturan-aturan tetek-bengek di sekolah. Apakah ini salah sekolah? Renungkanlah!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *