Kala itu, saat pagi tiba matahari menyapa. Embun pun menghilang, tawa anak-anak mulai terdengar dari dalam rumah dari balik pintu yang belum dibuka, aroma masakan para Ibu pun tercium sangat lezat para ayah mulai menyiapkan peralatannya untuk bekerja, yang anehnya hal itu tidak terjadi dalam rumahku.
Perkenalkan aku adalah gadis yang selalu mencari tempat untuk pulang juga tempat berteduh. Sementara, namaku Ena. Semua memanggilku Naa, gadis pendiam dan penakut. Aku memiliki rumah layaknya semua orang tetapi ku menyebutnya sebagai bangunan tua terbengkalai, ada yang hidup di dalamnya namun tak terdengar suara tawa yang riang, sunyi bagaikan bangunan tak berpenghuni.
Namun, di dalam bangunan itu, ada satu suara yang terus terdengar bahkan saat tak ada yang berbicara, pemilik suara itu adalah Zami: ayahku. Bukan karena dia adalah pencair suasana yang dingin di keluarga kami, melainkan ia adalah tersangka dari diamnya semua orang di keluarga kami.
Sampai saat ini aku masih menanyakan ada rahasia apa di balik 77 kali pertanyaan yang aku iya kan, aku menunggu di balik rahasia itu entah apa nanti yang aku dapatkan kebahagiaan atau kematian. Aku ketakutan di setiap harinya, jamnya, menitnya, bahkan detiknya. Saat ayahku berada di rumah, aku selalu berpikir dia akan membunuhku, tak tahu apa masalahnya dan apa penyebabnya aku tak tahu segalanya. Aku dilahirkan dan besar di keluarga ini. Ibuku telah pergi untuk selamanya dengan penuh luka di dalam hatinya kini hanya aku yang tertinggal. Di setiap paginya aku selalu mendengar kalimat:
“anak gak guna… cuma ngerepotin…
masakan apa yang kamu buat hari ini?.. kamu nggak usah makan habis berasanya nanti… kamu tuh cuma beban yang numpang tinggal di rumah saya…”
Begitu ujarnya.
Kalimat yang sangat sering saya dengar. Lalu dipagi itu seperti biasanya ia makan masakanku, aku bersiap untuk pergi sekolah lalu terdengar suara langkah kaki
Srek… srek….
mengarah ke kamarku, tanganku mulai gemetar nafasku terengah-engah tak beraturan dihimpit rasa takut yang mengekang dada, aku melihat sosok yang sangat aku takuti berdiri didepan ku, yaa itu adalah ayahku. Sembari membawa piringnya masuk ke dalam kamarku lalu, terdengar suara pyarr… (piring pecah)
Ia melemparkan piring itu tepat di depan mataku sembari memakiku.
“Lagi-lagi kau membuat makanan rasa sampah, dasar gak guna….
mau apa sekarang, kau ingin mati? (sembari menggenggam daguku)
Ketakutanku semakin parah, tangan dan kakiku bergetar tak karuan dalam hatiku berkata; aku mati sekarang.
Tuut.. tuut… tuut.. (suara telepon berdering)
Ayahku kemudian melepaskan tangannya dari daguku dan mengangkat telepon yang ternyata dari pacarnya tersebut. Dalam hatiku berkata “aku hidup lagi nah”
sSegera bergegas pergi untuk bersekolah dengan berjalan kaki, hanya saat itulah aku merasa bebas. Namun ketakutan dalam hatiku tak pernah pergi. beribu kali ku berfikir untuk kabur dari dirinya dan pergi meninggalkannya namun, sialnya orang yang sangat aku cintai menyuruhku menjaganya dan tidak meninggalkannya, ibuku adalah satu-satunya orang yang sangat aku cintai, aku bodoh dibuatnya.
Aku tahu, aku tak akan mengecewakannya. Tak ada yang diminta dari diriku, hanya hal itu dan itu yang terus bergema di telingaku sehingga membuatku pulang kembali ke rumah iblis itu.
Di setiap harinya aku selalu takut, diriku selalu merasa ada orang yang mengikutiku. Aku selalu ketakutan. di kelas, membuat semua teman-temanku menjauh dari diriku, aku benar-benar tak punya tempat pulang atau bahkan meneduh, saat hujan nestapa yang menjatuhkanku, ku hidup mendekap nestapaku sendiri, berjalan dengan kedua kakiku sendiri.
Semua orang melihatku sebagai gadis yang mandiri, ya.. karena aku tak pernah berhak menjadi beban siapa pun. Kenyataannya hidupku adalah beban, maka biar aku yang menanggungnya sendiri.
Saat siang menjelang sore telah tiba, gerbang sekolah dibuka. Semua anak-anak berlari keluar dari kelasnya, bergegas ingin segera pulang ke rumahnya, namun kakiku begitu berat melangkah, aku berharap waktu berhenti saat aku di sekolah. Namun, itu adalah hal yang mustahil.
Aku pulang ke rumah dengan langkah yang berat, bersiap untuk bertemu dengan manusia yang sangat aku takuti. Semakin dekatku dengan pintu rumah, semakin bergetar tangan dan kakiku, aku membuka pintu dengan perlahan karena takut mengganggunya. Aku melihatnya sedang berbincang dengan kekasihnya ditelepon, sembari menatapku dingin, ia mengatakan “bersihkan rumah ini”
lalu dia mengambil jaket dan kunci motornya untuk bergegas keluar, di saat itulah aku bisa makan dan melihat rumahku dengan damai dan tenang. Hanya pada saat itulah aku benar-benar melihat ini sebagai rumah.
Penerapan Sistem Poin & Reward Penulis Suroya Project
Seperti biasanya sepulang sekolah, aku membersihkan rumah ini dan membersihkan pecahan piring serta nasi yang berceceran di kamarku yang dilemparnya tadi pagi. Ayahku selalu pulang larut malam entah ke mana ia pergi aku pun tak tahu.
Hari-hari ku lalui dengan penuh luka di dalam hati, aku tak pernah melihat awan cerah, hanya mendung gelap dan badailah yang selalu aku temui. Hingga pada akhirnya, badai itu benar-benar menjatuhkanku, aku jatuh tergeletak di lantai kamarku tak sadarkan diri. Entah apa yang salah pada diriku, aku pun tak tahu, aku tak pernah merasakan sakit setelah kepergian ibuku.
Kemudian ku membuka mataku, kudapati diriku berbaring di ruang yang asing dengan peralatan penuh di tubuh kecilku, orang-orang berlarian keluar dan masuk dari dalam ruangan itu. Lalu, semuanya gelap aku tak ingat apapun, kemudian mataku perlahan membuka, kali ini suasananya berbeda: hening, hanya ada aku dan satu lelaki tinggi dan tampan di pojok ruangan tersebut, yang terus menatap diriku dengan tatapan cemas dan tulus, tatapan yang tak pernah aku lihat sepanjang hidupku.
Tatapannya asing, namun tidak dengan wajahnya, kerutan wajahnya dan tinggi badannya sangat pas dengan orang yang sangat aku kenal. Perlahan kakinya melangkah ke arahku, wajahnya pun semakin jelas, terlihat ia adalah ayahku, iya berjalan semakin dekat ke arahku membuat dadaku menjadi sesak, nafasku berhembus tak teratur. lama ia melihat wajahku lalu terdengar sepatah kata ia ucapkan
“maaf…”
membuat bola mataku membulat sempurna. Aku benar-benar terkejut mendengar ucapannya lalu lirih ucapannya kembali terdengar.
“Aku melakukan itu semua agar kau bisa hidup tanpa aku. Ibumu telah lama pergi aku juga takut akan pergi meninggalkanmu dan membuat kau tak bisa apa-apa tanpa kami. Aku tak mau itu terjadi, aku ingin kau tetap hidup walau tanpa aku dan ibumu. Dan maaf juga karena trauma masa kecilku menghancurkan hidupmu dan ibumu, aku benar-benar tak mampu mengendalikan trauma masa kecilku, dia benar-benar merenggut semua kebahagiaanku, dia menghancurkan hidupku bahkan sampai saat ini. Dari kecil aku hanya bisa meluapkan kemarahanku dan emosiku, karena hanya itu yang aku miliki sejak kecil, aku tak tahu bagaimana memberi cinta.
Maaf… aku gagal dalam segalanya, gagal menjadi suami dan gagal menjadi ayah, maaf…”
Tanpa sadar air mataku jatuh membasahi bantal rumah sakit, sejenak saat itu aku menyadari bahwa ia bukanlah iblis, aku hanya belum mengenal dirinya saja, namun maaf ayahku sepertinya tak begitu diterima Tuhan, kini aku hanya dapat hidup sebentar.
Tuhan tak memberikan aku dengan ayahku untuk seutuhnya, kini bibirku sudah berubah warna pucat yang tak dapat kututupi. Namun ini adalah awal diriku merasakan hidup dan melihat rumah ini sebagai tempat untuk pulang dari lelahnya dunia luar.
Kini aku tak melihat bangunan tua itu lagi, karena kini bangunan itu dipenuhi oleh bunga disekeliling rumah kami. Saat pagi tiba, ayahku berusaha memasak untuk diriku. Ayahku juga yang kini menggenggam tanganku saat kakiku tak sanggup melangkah, kini ia benar-benar memberiku cinta. Walaupun masakannya tak lebih lezat dari masakanku, tapi ini sudah cukup untuk diriku yang sudah sekarat ini.
Disisa-sisa hidupku, kami hidup dengan tolong-menolong. ini adalah kerja sama yang baik antara ayah dan anak perempuannya. Tawanya mulai terdengar di telingaku, senyumannya yang menawan dapat kulihat.
Kini kita selalu menertawakan hal-hal yang kecil, seperti hasil masakan ayahku yang rasanya tak karuan, gagang sapu yang patah menjadi dua bagian saat ayahku mencoba membersihkan rumah, tawa kami kini terdengar sangat kencang bahkan sampai balik pintu rumah kami, sampai kami lupa, bahwa Tuhan hanya mengizinkanku sebentar di sini, namun ku sudah cukup senang.
Diakhir hudupku, yang aku dengar bukan lagi kemarahannya, tetapi tawanya yang tulus. Tuhan mengambilku dengan sangat terburu-buru, mungkin Tuhan juga rindu dengan ku. Pada akhirnya pandanganku yang tadinya melihat tawa di wajahnya menjadi kabur semuanya menjadi gelap lalu terdengar suara brukk…
Ternyata tubuhku sudah terbaring di lantai dapur, saat aku sedang menemani ayahku memasak. kini aku benar-benar pergi untuk selama-lamanya, dan ternyata inilah rahasia dibalik 77 pertanyaan yang aku iyakan, aku dapat melihat tawanya di ujung hidupku yang rasanya sudah cukup walau hanya sebentar. Ternyata yang kudapat adalah kebahagian dan juga kematian.
terimakasih Tuhan.


Huhuhu 🥲🥺
Sangat menyentuh ya kak