Untuk Ibu: Jejak yang Tak Pernah Hilang

Pagi ini sunyi. Dua balitaku masih tidur, terkadang menggeliat kesana kemari. Napas mereka pelan, berat di kasur kadang menenangkan, tapi juga membuat aku sadar. Aku duduk di kursi dekat jendela, menghirup secangkir kopi yang masih hangat di tangan. Mata menatap ke luar, tapi pikiran melayang ke ibu.

Ibu sudah tiada sejak tiga tahun lalu karena dipanggil oleh Yang Maha Kasih. Serasa seperti kemarin aku masih bisa mendengar tawanya, melihat tangannya sibuk mengatur rumah, mengatur aku. Sekarang, yang tersisa hanya kenangan dan terkadang jelas juga kadang samar.

Telepon bergetar. Pesan masuk: “Selamat Hari Ibu.” Ucapan dari teman dan saudara yang tidak tahu, atau mungkin tidak peduli, bahwa ibuku sudah tiada. Aku membaca, tersenyum tipis, kadang sinis. Seperti biasanya, aku menyimpan rasa itu sendiri. Aku selalu menyimpan rindu dan menahan air mata yang tak pernah tuntas.

Aku teringat saat remaja, ibu selalu bangun sangat amat pagi. Ia membuat kan sarapan, teh hangat, atau nasi goreng dengan telur mata-matanya yang besar. Sambil menatapku tidur, lalu mengetuk pintu kamar, “Selamat Hari Ibu, Nak.” Aku sering merespons setengah sadar, tapi hatiku terasa hangat. Sekarang, kenangan itu terasa sepi, tapi tetap ku bawa ke mana- mana. Kadang aku menutup mata dan membayangkan ibu duduk di kursi itu, tersenyum, menatapku.

Anak-anakku mulai bergerak. Mata setengah terbuka, rambut acak-acakan. Tawa mereka membuat aku tersenyum, memeluk mereka, merasakan hangatnya hidup yang terus berjalan. Tapi di sela itu, ada hampa menusuk tajam. Aku ingin mereka mengenal neneknya, tapi bagaimana? Foto, cerita, suara lama seakan semua terasa tidak cukup untuk merasuk ke jiwa mereka. Aku ingin mereka merasakan cinta ibu, meski hanya melalui kata-kata yang bisa aku tulis sekarang.

Sekolah dan Ketakutan

Di meja makan, kursi ibu tetap kosong. Selalu akan kosong. Bayangan wajahnya muncul, seolah duduk di situ, menertawakan kekacauan anak-anak, memuji hal-hal kecil. Aku menatap kursi itu lama, kadang bicara sendiri, kadang diam. Anak-anak belum mengerti, mungkin tidak sekarang, tapi aku ingin mereka tahu bahwa di kursi itu, ibu masih hadir, meski hanya dalam bayangan.

Hari Ibu kini bukan soal ucapan di layar, kartu digital, atau bunga. Hari Ibu adalah tentang kenangan, tentang cara seseorang tetap hadir walau sudah tiada. Aku ingin anak-anakku merasakannya, perlahan tapi pasti. Aku ingin mereka tahu bahwa cinta tidak hilang, walau sosok yang dicintai telah pergi.

Matahari mulai bergerak merangkak dilangit. Aku pun membawa mereka ke taman. Langkah kecil mereka, tawa, lari-lari, membuat hati terasa hangat sekaligus getir. Aku menatap ke langit, membayangkan wajah ibu yang bersembunyi di awan. Kata-kata muncul di kepala, tapi tak terucap. Kadang aku ingin berbagi, kadang takut kata-kata itu hancur sebelum keluar.

Aku duduk di bangku taman, anak-anak bermain di sekeliling. Angin berhembus lembut, dan aku membayangkan ibu duduk di sampingku: “Lihat, mereka tumbuh, Nak.” Sekarang aku yang melihat. Sekarang aku yang menyimpan. Aku harus menjadi penghubung antara kenangan dan masa depan. Aku harus menjaga agar cinta itu tetap hidup dalam tiap langkah anak-anakku.

Aku mengamati anak-anak bermain, tersenyum pada tawa mereka yang riang, tapi hati terasa rindu yang tak pernah hilang. Bayangan ibu hadir di setiap gerakan kecil mereka, di setiap tangisan dan canda. Aku ingin mereka tahu, melalui setiap cerita, bahwa cinta itu ada, meski tidak selalu bisa disentuh.

Ketika matahari berganti jaga dengan rembulan yang datang dengan penuh. Rumah kembali hening. Hanya suara napas anak-anak yang menenangkan. Aku duduk di sofa, menatap foto lama ibu di rak. Senyumnya lembut, tangannya selalu sibuk, matanya hangat. Jauh tapi tetap dekat. Aku mengetik beberapa baris di ponsel, untuk anak-anak kelak, cerita tentang ibu, tentang sabar, tentang cinta yang tak bersyarat.

Hari Ibu berlalu tanpa pesta, tanpa hadiah, tanpa tawa gaduh. Hanya kenangan. Keheningan yang aneh, tapi elegan. Aku sadar, kasih sayang ibu tidak selalu butuh kata. Kadang cukup hadir, dalam cerita, dalam napas, dalam diam.

Anak-anak terbangun malam itu, tangisan kecil dari salah satunya. Aku menggendong dan menenangkan mereka. Ingatanku melayang: ibu menenangkan aku dulu, kini aku menenangkan mereka. Rantai yang tak terlihat, tapi nyata. Rantai yang menghubungkan generasi, mengajarkan bahwa cinta tidak pernah hilang.

Di dapur, aku mencuci piring. Sudah bersih sebenarnya, tapi tangan butuh kesibukan. Pikiran melayang, apakah aku berubah, atau dunia bergerak terlalu cepat? Semua simbol dan ucapan seringkali tidak sampai. Kadang merasa bersalah, kadang lega. Aku belajar bahwa menjadi orang tua bukan tentang sempurna, tapi tentang hadir.

Malam semakin larut. Anak-anak tidur. Aku duduk bersimpuh, menatap sajadah sampai air mata mengalir dengan sendirinya dan banyak. Doa terbaikku melayang untuk ibu karena selalu ingat akan bayangan ibu dan bayangan cinta masa lalu. Hari Ibu bukan soal perayaan atau ucapan, tapi tentang hadir, menyimpan, dan meneruskan cinta.

Pesan masuk lagi. “Selamat Hari Ibu.” Aku tersenyum tipis, menerima salam dari dunia yang terus berjalan. Ibu tidak akan membaca, tidak akan menjawab, tapi hatiku tahu, cinta itu tetap ada.

Aku menidurkan anak-anak lagi, menatap mereka tidur. Napas mereka hangat, hidup. Aku tersenyum. Ibu mungkin sudah tiada, tapi jejaknya selalu ada di rumah ini, di hati, di aku.

Hari ini aku belajar: kasih sayang tidak bisa dikirim, tidak bisa diunggah, tidak bisa dijadikan simbol. Kehadiran sejati hanya bisa dirasakan dalam waktu, dalam napas, dalam cerita, dalam pelukan sederhana, dalam senyum yang tidak sempurna.

Aku menulis ini untuk anak-anakku, agar suatu hari mereka mengerti, mengenal neneknya melalui kata-kata. Suara ibu tetap terdengar, tidak sempurna, kadang patah, kadang terlalu Panjang, seperti cinta yang nyata.

Lampu mulai redup, angin malam berbisik lirih. Aku duduk di kursi dekat jendela, diam, hanya merasakan. Kehadiran ibu masih di sini. Tidak terlihat, tapi terasa di setiap tawa anak-anak, di setiap napas yang aku hirup, di setiap kenangan yang membekas.

Besok layar akan menyala, pesan-pesan datang lagi, dunia bergerak. Tapi aku tahu, kehadiran itu, kasih sayang itu, tidak bisa dipaksakan, tidak bisa dikirim. Hanya bisa dirasakan. Dan aku akan tetap berusaha: mengingat, menyimpan, menjadi ayah yang mencoba meneruskan cinta yang aku terima dari ibu.

Anak-anak tidur, rumah sunyi. Aku menatap foto ibu lagi, senyum itu, kehangatan itu, bayangan itu. Tidak sempurna, tidak lengkap, tapi cukup. Cukup untuk menutup mata dan tahu bahwa cinta itu hidup, dalam diam, kenangan, dan hati yang terdalam.

Sunyi rumah malam ini berbeda: tidak kosong, tidak sempurna, tapi nyata. Aku merasa bahwa ibu, dengan cara yang sederhana, tetap hadir. Dan untuk semua itu… aku mengucap terima kasih kepada Tuhan, atas cinta yang pernah hadir, yang masih ada, dan yang akan terus hidup, meski orang yang kucinta telah tiada. Aku menutup mata. Napas panjang. Senyum tipis. Hari Ibu berlalu. Tapi aku masih di sini. Anak-anak masih di sini. Kenangan ibu masih di sini. Dan itu, hanya itu, yang terpenting.

2 thoughts on “Untuk Ibu: Jejak yang Tak Pernah Hilang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *