Suroyaproject.com Yahya adalah salah seorang santri di Pondok Pesantren yang ada di tanah Jawa. Ia memiliki teman akrab yang bernama Alfa. Dibanding Alfa yang cerdas, Yahya merupakan santri yang bisa dibilang agak lamban dalam menghafal.
Suatu ketika, Yahya dan Alfa mengambil sebuah kitab nahwu yang terkenal di pesantren, yakni alfiyah ibnu Malik. Ia mulai menghafalnya dan mengulang-ulang hafalannya hingga berjam-jam. Meskipun sudah melewati waktu yang cukup panjang, namun satu bait pun tidak ada yang masuk di kepalanya. Ia menengok ke samping, terlihat Alfa yang sangat fokus dan lancar menghafalkan kitab alfiyah ibnu Malik. Yahya pun menghampiri Alfa dan bertanya.
“Kang Alfa, sudah dapat berapa bait?” tanya Yahya yang penasaran.
“alhamdulillah, sudah 150 bait kang”. Jawab Alfa.
“ kok aku aneh ya kang, padahal aku sudah berkali-kali dan berjam-jam menghafalkannya, namun tidak kunjung hafal juga, apakah ada yang salah ya kang?”
“hahahahahahahahaha, mungkin kamu memang tidak punya bakat untuk menghafal kitab itu kang”. Celoteh Alfa sambil tertawa.
Perasaan sedih seketika muncul di dalam hati Yahya, ia pun pergi menuju belakang masjid dekat asrama yang ia singgahi. Ia termenung dan duduk sambari menghadapkan wajahnya ke arah langit. Hatinya dipenuhi dengan rasa sedih. Air mata menetes seketika, dan bibirnya pun bergumam.
“Yaallah, apakah aku memang tidak ditakdirkan untuk hafal kitab alfiyyah, jika benar demikian untuk apa aku harus bertahan, untuk apa aku harus berjuang mati-matian demi menghafalkannya, haaaaaaah engkau tidak adil tuhan”
Rasa sedih dan putus asa pun menghantui pikirannya. Sesaat setelah itu di balik keheningan malam, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil-manggil namanya.
“Kang, kang Yahya”. Suara seseorang yang memanggil-manggil Namanya.
Seketika, iapun segera mengusap air matanya dan menengok ke arah suara tersebut. Ternyata orang tersebut adalah Ustadz Hasyim, ia merupakan salah satu ustadz favorit di pesantren yang aku singgahi.
“Dalem pak Ustadz”. Jawab Yahya dengan penuh rasa hormat.
“Tolong kesini dulu kang, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan”. Suara ustadz Hasyim menyuruhnya untuk menghadap.
“Injjih pak Ustadz”
Dengan penuh rasa penasaran ia pun segera berlari menghadap ustadz Hasyim. Sambil menunduk dan menghadapkan wajahnya ke tanah bak seorang prajurit yang sedang menghadap pada sang raja, dimana hal ini merupakan cara santri menghormati gurunya.
Sepotong Tawa di Ujung Nyawa
“Ada apa injih ustadz Hasyim kok memanggilku”. Tanya Yahya dengan suara lirih.
“Saya tadi dapat laporan, kalok sampean tiba-tiba lari ke arah belakang masjid” jawab ustadz Hasyim.
“injih Ustadz tadi saya di asrama sedang menghafal kitab alfiyyah dengan kang Alfa, tapi saya tidak kunjung hafal, saya bertanya pada kang Alfa perihal susahnya hafalanku, akantetapi kata kang Alfa saya tidak ditakdirkan hafal kitab alfiyyah”
“Oalah begitu, pantas bola matamu terlihat merah, habis nangis yaa, jangan nangis kang, laki-laki kok nangis pamali kang”. Ledek ustadz Hasyim berusaha mencairkan suasana.
“Kang Yahya, sampean apa tidak ingat nasihat Syaikh Az-Zarnuji dalam kitabnya, bahwa jika seseorang bersungguh-sungguh dalam mencari sesuatu, maka ia akan mendapatkannya, ibarat sampean bertamu dan mengetuk-ngetuk pintunya, jika sampean hanya mengetuk satu atau dua kali ya jelas orangnya tidak akan keluar, namun lain halnya jika sampean bertamu dengan mengucap salam dan bersungguh-sungguh mengetuk pintunya dengan penuh rasa sopan, maka besar kemungkinan orang tadi akan keluar dan membukakan pintu”. Nasihat Ustadz Hasyim yang berusaha meyakinkan Yahya. Ustadz Hasyim pun melanjutkan penuturannya.
“Artinya begini kang, jika sampean memiliki cita-cita hafal kitab alfiyyah, maka sampean harus bersungguh-sungguh dalam menghafalnya jangan hanya satu atau dua kali saja sudah nyerah kang, dan jangan lupa ya kang kirim fatihah dulu pada si mbah kyai yang mengarang kitab alfiyyah, tujuannya agar Allah mempermudah hafalanmu”. Nasihat ustadz Hasyim yang sambil mengusapkan tangannya ke atas kepalaku.
“ Enjjih ustadz, terimakasih banyak atas nasehatnya”. Jawab Yahya yang penuh rasa semangat semangat.
Ia pun pergi menuju ke arah kamar mandi dan mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat hajat. Ia pun sholat hajat dengan penuh rasa khusu’. Sesaat setelah selesai ia melakukan apa yang diperintahkan oleh Ustadz Hasyim, yakni mengirim fatihah pada pengarang kitab alfiyyah dan mulai menghafalnya berulang-ulang kali.
Ia merasa bahwa memang dirinya tidak cepat dalam menangkap hafalan, oleh karena itu ia terus berusaha dan menghabiskan waktu-waktu luangnya untuk hafalan. Namun, lain halnya dengan kang Alfa, karena merasa ia memiliki kecepatan dalam hafalan justru malah menghabiskan waktu-waktu luangnya untuk bermain dan tidur.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. waktu pengetesan hafalan pun tiba. waktu pengetesan hafalan itu dalam pesantren disebut Malam lailatul muhafadhoh. Seluruh santri dan seluruh ustadz-ustadz pesantren serta orangtua santri turut hadir di halaman pesantren guna melihat hasil dari hafalan para santri.
Pada saat itu, yang menjadi peserta utama lailatul muhafadhoh adalah kang Alfa. Ia begitu lancar dan tidak ada kesalahan sedikitpun, namun tiada disangka di tengah-tengah hafalan tiba-tiba ia terlihat kesusahan , entah pikiran apa yang sedang mengganggunya, ia tampak hanya bolak-balik saja hafalannya. Kang Alfa pun memutuskan untuk turun dari panggung dan mengakhiri hafalnnya yang belum tuntas itu.
Kejadian itu membuatku terperangah, aku berfikir bagaimana bisa kang Alfa yang terkenal lancar hafalannya tapi tidak tuntas pada saat pengetesan, apa lagi aku yang susah hafalannya. Perasaanku mulai gelisah, pikiranku terganggu, dan aku pun mulai tidak tenang. Aku berussah meyakinkan diriku sendiri, aku terus meyakinkan diriku bahwa aku bisa. Aku pun teringat nasihat dari Ustadz Hasyim waktu lalu, bahwa jika kita terus berusaha maka kita akan sampai.
Sesaat setelah mengingat-ingat nasihat ustadz Hasyim, aku merasa memiliki semangat yang sangat tinggi, rasa gelisah dan grogi berada di depan orang-orang banyak pun seakan-akan hilang. Dengan rasa percaya diri dan antusias yang tinggi aku pun mulai melangkahkan kakiku menuju panggung pengetesan. Aku memulainya dengan salam dan mengawali tes hafalan ku dengan basmallah serta tidak lupa aku pun mengirim fatihah kepada pengarang kitab alfiyyah.
Entah keajaiban apa yang menimpaku waktu itu, aku pun berhasil menyelesaikan tes hafalan dengan tuntas tidak kurang suatu apapun, hatiku penuh dengan rasa gembira air mata pun menetes tak mampu menahan betapa bahagianya aku. Terlihat dari kejauhan raut wajah yang orang tuaku yang tersenyum, aku pun menghampirinya sambil memeluk erat badannya.
Dari keadaan yang telah aku lewati dalam menghafal kitab alfiyyah, aku bisa mengambil pelajaran dari nasihat ustadz Hasyim waktu itu, bahwa memang manusia itu memiliki kadar kecerdasan yang berbeda-beda, namun untuk menggapai sesuatu yang kita inginkan kecerdasan pun tidak cukup jika tidak dilengkapi dengan niat yang kuat dan usaha yang sungguh-sungguh.

